Pro Kontra Pelunasan Utang IMF

Pro Kontra Pelunasan Utang IMF

- detikFinance
Rabu, 03 Mei 2006 17:31 WIB
Jakarta - Niat Bank Indonesia (BI) mempercepat pelunasan utang ke IMF mendapat respons yang cukup beragam. Ada yang pro, namun ada juga yang kontra.Jika Anda di kubu kontra, Anda mungkin setuju dengan pendapat Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta. Politisi dari Partai Golkar ini mengaku tidak setuju dengan percepatan pelunasan utang ke IMF, kendati cadangan devisa Indonesia sudah mencapai US$ 43 miliar."Tapi itu kan bukan dari hasil sektor riil. Bukan karena ekspor kita yang meningkat, tapi lebih kepada transaksi bursa saham. Saya khawatir ini akan mengubah situasi lagi bila terjadi spekulan main lagi. Kan ini tidak fundamental. Artinya, kita sekarang mencicil saja dulu sampai pada waktunya tahun 2010," urai Paskah.Hal itu disampaikannya usai mengikuti rapat BRR di Kantor Menko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (3/5/2006).Namun Paskah menegaskan, Indonesia tidak perlu mempercepat pelunasan utang dengan catatan tidak terjadi kenaikan suku bunga. "Nanti kita excercise, bagaimana kalau dia sampai menaikkan suku bunga," tegasnya.Sementara di kubu pro adalah anggota Komisi XI DPR Dradjad Wibowo. Pengamat ekonomi ini mengaku setuju dengan rencana BI mempercepat pelunasan utang ke IMF.Menurut Dradjad, selama cadangan devisa US$ 30 miliar atau lebih, Indonesia masih aman-aman saja untuk membayar lunas, baik dari sisi cadangan devisa, balance of payment (neraca pembayaran), nilai tukar dan stabilitas makro."Malah bukan tidak mungkin rating Indonesia justru naik, sehingga makin memperkuat kondisi makro, jadi makin cepat lunasi utang ke IMF, makin baik," ujar Dradjad kepada detikcom.Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah dan BI sudah membahas mengenai percepatan pelunasan utang itu. Namun pemerintah menyerahkan sepenuhnya keputusan pelunasan utang kepada Bank Indonesia."Mereka yang akan melihat dari cadangan devisa yang bisa diakumulasi. BI yang melihat kepada neraca pembayaran mereka," ujar Sri Mulyani pada Selasa 2 Mei malam. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads