Impor Gula 'Palsu' Meningkat, Konsumen Diminta Waspada
Rabu, 03 Mei 2006 17:40 WIB
Jakarta - Impor pemanis sintetis (buatan) pada tahun 2005 mengalami lonjakan yang signifikan hingga 1.500 persen lebih, akibat tingginya harga gula putih di pasar dunia.Pemanis sintetis ini disinyalir digunakan oleh produsen makanan dan minuman untuk menekan biaya produksi. Maka itu konsumen diminta mewaspadai makanan yang menggunakan pemanis buatan ini."Hal itu diindikasikan dengan melonjaknya impor pemanis sintetis selama 2005," kata Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Teddy Setiadi dalam konferensi pers di Gedung Departemen Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (3/5/2006).Harga gula putih di pasar dunia naik dari US$ 300 per ton menjadi US$ 500 dolar per ton sejak akhir tahun lalu.Teddy menjelaskan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan selama periode Januari-Nopember 2005, impor sakarin (salah satu pemanis buatan) mengalami lonjakan 1.695,52 persen atau mencapai 23.252 kg senilai US$ 87.023, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1.295 kg senilai US$ 24.601. Berdasarkan penelusuran awal BPKN, kalangan industri makanan dan minuman kecil dan menengah mengakui, sejak 2005 penggunaan pemanis sintetis mengalami peningkatan drastis. "BPKN mengimbau konsumen untuk lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi produk makanan dan minuman berpemanis buatan," ujar Teddy mengingatkan. Sementara, produsen diwajibkan untuk mencantumkan keterangan komposisi bahan baku dan tambahan dalam produknya secara jelas pada label.Menurut Teddy, lonjakan pemakaian pemanis buatan ini dipicu oleh harga gula dalam negeri yang naik menjadi Rp 4.000 - Rp 6.000 per kg. Sebagai imbas atas kenaikan BBM yang mengakibatkan tingginya biaya produksi. Penggunaan pemanis buatan sendiri saat ini dilarang untuk produk yang dikonsumsi wanita hamil dan bayi. Penggunaan pemanis buatan yang tidak sesuai aturan akan mengakibatkan kanker dan keterbelakangan mental.Pemanis sintetis yang digunakan oleh industri makanan dan minuman diantaranya sakarin, siklamat, aspartam, acesulfam-K, alitam dan neotam. Pemanis buatan ini memiliki tingkat kemanisan puluhan hingga ribuan kali lipat dari gula. Sementara pemanis buatan yang non kalori biasanya digunakan untuk produk makanan dan minuman bagi penderita diabetes mellitus (kencing manis) dan obesitas (kegemukan). Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) B untuk penggunaan bahan pemanis buatan. Misalnya, Aspartam untuk es termasuk sherbet dan sorbet 3.000 mg/kg, selai dan jeli 3.000 mg/kg.
(ir/)











































