Globalisasi di Mata Mahathir

Globalisasi di Mata Mahathir

- detikFinance
Kamis, 04 Mei 2006 15:23 WIB
Globalisasi di Mata Mahathir
Jakarta - Globalisasi yang didengung-dengungkan negara maju diyakini mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad hanya akan memperkaya negara maju, tapi di sisi lain akan menjerumuskan negara miskin.Globalisasi merupakan bentuk penjajahan baru oleh negara kaya untuk mengeksploitasi kekayaan alam negara miskin walaupun dengan corak penjajahan yang agak berbeda.Hal tersebut dilontarkan Mahathir saat memberikan kuliah umum dengan tema"Nasionalisme dalam Era Globalisasi" di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/5/2006)."Satu dari kesan krisis keuangan yang diusahakan oleh peniaga matawang mereka baru-baru ini ialah kita menjadi begitu miskin sehingga terpaksa meletakkan diri kita di bawah kuasa milik IMF," cetus Mahathir dengan aksen melayu yang kental.Mahathir pun mencontohkan kejadian krisis keuangan yang pernah mendera Asia Tenggara beberapa tahun silam. Karena kejatuhan mata uang Asia yang dipicu oleh spekulan asing, maka nilai saham bank dan industri mengalami penurunan dibanding mata uang negara maju."Di masa yang sama nilai saham bank dan industri kita dalam mata wang tempatan juga jatuh karena sudah tidak untung lagi, dibeban dengan utang yang tidak dapat dibayar. Sebilangan besar daripada perniagaan kita muflis, bankrupt," ujar bapak tujuh anak ini.Modal asing dengan mudah mengalir ke dalam negeri, maka dengan mudah bank dan perusahaan milik pemerintah dapat dengan mudah dibeli oleh perusahaan asing dengan harga yang relatif lebih murah karena jatuhnya nilai mata uang dan saham tadi."Apabila IMF menentukan dasar ekonomi dan kewangan kita dan bank serta perniagaan kita dimiliki oleh pedagang asing, maka kuasa kita atas hal ehwal negara kita terhakis. Ini bermakna kita tidak merdeka lagi sepenuhnya. Ini bermakna kita sudah, secara langsung dan tidak langsung, dijajah," kata suami Siti Hasmah ini.Krisis keuangan yang parah akhirnya menyebabkan berjuta-juta pekerja kehilangan pekerjaan, dan terjadi kerusuhan massal, rakyat mengamuk. "Akhirnya kita terpaksa tunduk kepada IMF, World Bank, dan negara-negara kaya di barat," tegasnya."Inilah sebab yang sebenar nilai matawang kita jatuh, bukan karena pengurusan kewangan, pengurusan negara kita tidak cakap, bukan kerana jangkitan dari penyakit kewangan negara lain. Soal korupsi di negara membangun memang ada, dahulu pun ada, sekarang pun ada. Tetapi ia tidak lagi menyebabkan krisis berlaku dahulu, tidak juga resesi. Lagi pula di negara maju juga terdapat korupsi tanpa krisis matawang," paparnya.Mengakhiri kuliahnya, Mahathir menilai globalisasi memang tidak bisa dicegah. Untuk itu semangat nasionalisme perlu dikukuhkan di zaman yang mengutamakan kebebasan modal ini."Dilihat dari sudut apapun, globalisasi yang dicadang mereka hanya menguntungkan mereka, mencerminkan perlindungan bagi mereka menjadi bukti kebangsaan mereka. Justru itu maka negara yang lemah perlu kukuhkan semangat nasionalisme kita di zaman globalisasi," ujarnya.Nasionalisme masih berperan. Tapi bukan berarti dengan memikul senjata melawan musuh. Hal itu memerlukan kepintaran dan perpaduan, strategi yang bijak, dan hati yang cekal. "Inilah nasionalisme di zaman globalisasi," ujar Mahathir menutup kuliahnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads