Kemendag Klaim Harga Telur Mulai Turun, Bagaimana Faktanya?

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 04 Jan 2022 16:05 WIB
Harga telur meroket di akhir tahun 2021. Hal ini membuat daya mebli menurun dan mengkoreksi mendapatan para agen telur.
Harga Telur (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Perdagangan mengungkap saat ini harga telur ayam sudah turun dari tertinggi Rp 32.000 per kilogram menjadi Rp 27.000/kg. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan memastikan ke depan akan terus terjadi penurunan.

"Saat ini harga telur ayam sudah berangsur turun dari Rp 32.000/kg dan saya targetkan menjadi Rp 27.000/kg di wilayah Jakarta karena barometernya Jabodetabek. Kemarin di Blitar sudah menjual Rp 22.000/kg. Jadi artinya kalau Rp 22.000/kg itu bisa narik ke Rp 26.000/kg. Ini sudah berjalan, dan ini akan turun kok tenang saja," kata Oke kepada detikcom, Selasa (4/1/2021).

Sebagai perbandingan, berdasarkan data dari Info Pangan Jakarta harga telur ayam ras tercatat turun dibandingkan harga kemarin. Sebelumnya rata-rata Rp 30.047/kg, hari ini menjadi Rp 29.319/kg.

Harga telur ayam terendah hari ini sudah di level Rp 27.000/kg di Pasar Cijantung. Sementara masih ada pasar yang menjual Rp 32.000/kg, seperti di Pasar Pluit hingga Pasar Sunter Podomoro.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri membenarkan memang sudah terjadi penurunan pada harga telur ayam. Namun, menurutnya masih jauh dari harga eceran tertinggi (HET) untuk telur ayam Rp 22.000/kg hingga Rp 25.000/kg.

"Ini masih jauh dari HET di pasar itu masih Rp 29.000/kg. Paling tidak penurunan itukan ke harga HET Rp 22.000/kg hingga Rp 25.000/g paling tinggi. Kalau turunnya hanya sedikit kan buat apa? Saya berharap ke depan akan turun harganya, terlebih sudah terjadi penurunan permintaan," ujarnya.

Selain itu, dia juga berharap siklus kenaikan harga pangan ini menjadi pelajaran untuk momen-momen hari besar ke depan, agar tidak terus-menerus menjadi siklus tahunan. Misalnya, momen Hari Raya Lebaran, Natal hingga Tahun baru.

"Saya minta Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan lebih fokus pada pemetaan wilayah produksi dan desain pangan periode ke depan. Ini 2022 harusnya sudah dipikir, kira-kira Lebaran tingginya segini nggak, Natal segini nggak. Setiap tahun kita begini, maka harus ada persiapan," tutupnya.

(dna/dna)