Jika Menaikkan Bunga
RI Harus Lunasi Utang ke IMF
Kamis, 04 Mei 2006 17:55 WIB
Jakarta - Jika Dana Moneter Internasional (IMF) merealisasikan kenaikan suku bunga pinjamannya, maka Indonesia harus cepat-cepat melunasi utangnya. Pasalnya, dana dari IMF tersebut selama ini tidak dipakai dan hanya sebagai dana cadangan. Hal tersebut disampaikan Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di sela-sela dialog serumpun, Nasionalisme dalam Era Globalisasi di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/5/2006)."Kalau memang mereka mau naikin suku bunga udah bayar saja ini kan cuma likuiditas support saja. Disimpan di dalam cadangan devisa. Kalau IMF menaikan suku bunga itu IMF enggak bener. Masa untuk likuiditas support suku bunga dinaikkan. Kalau suku bunga dinaikin dibayar saja. Itu kan rugi nanti," ujarnya.Paskah menyarankan, pembayaran utang sebaiknya dilakukan secara sekaligus. Posisi cadangan devisa RI, menurut Paskah masih mencukupi untuk pelunasan utang sekaligus. "Kalau nyicil, suku bunga naik percuma juga. Kalau saya sarankan dibayar saja sekaligus US$ 7,8 miliar," katanya.Paskah menegaskan, Indonesia kini tidak lagi membutuhkan IMF. Sehingga tidak masalah kalau Indonesia tidak meminta utang lagi ke IMF."Kita sudah enggak ada lagi kebutuhan dengan IMF, sebagai anggota oke lah. Kewajiban dia memberikan support kepada kita. Nggak masalah kalau kita enggak punya utang ke IMF. Sekarang ini mereka rugi. Rencananya minggu depan akan ketemu dengan saya," katanya.Jika RI jadi membayar utangnya ke IMF maka peringkat utang pun akan naik. Dan kenaikan rating ini akan mengurangi risiko utang luar negeri. Sebelumnya, lembaga multilateral seperti Bank Dunia menaikan peringkat utang Indonesia karena pendapatan per kapita RI sudah naik.Namun peningkatan cadangan devisa yang sekarang mencapai lebih dari US$ 40 miliar terjadi bukan karena faktor fundamental, melainkan karena aliran hot money. Untuk itu ekspor harus terus digenjot"Ini kan hanya transaksi kertas di pasar saham, sektor riil tidak pernahtersentuh. Penggangguran masih tetap. Saya rasa itu hanya transaksi saham saja bukan fundamental," tegasnya.
(qom/)











































