Gunakan Trik Ini Agar Tidak Terjebak 'Perang Harga'

dtv - detikFinance
Kamis, 06 Jan 2022 14:41 WIB
Jakarta -

Transformasi bisnis ke dunia digital sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Nah agar bisnis kalian tidak terjebak perang harga, harus berani ciptakan satu keunikan dari produknya.

"Ada produk-produk emang orang senang dapat diskon, ibu ibu senang dapat diskon. Nah ketika memberikan diskon selalu lihat batas bawahnya berapa dan kapan dilakukan ? jangan sampai terlibat dalam perang harga tidak jelas," ujar Founder Yayasan Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali dalam acara d'Mentor detikcom, Rabu (5/1/2022).

Lebih lanjut Rhenald jelaskan strategi untuk terhindar dari perang harga. Sebagai produk UMKM kalian harus berani buat suatu keunikan yang berbeda.

"Kalau kita kita tidak bisa ciptakan keunikan, maka kita jadi komoditi. Komoditi subject price kompetisi misalnya kita bikin hotel, hotelnya adu murah yang orang banyak datang karena hotel kita, hotel seratus ribu, orang datang karena murah ya sudah, orang lain turun Rp 90 ribu customernya pindah ke tempat lain, tapi kalau anda punya keunikan, maka orang cari keunikannya," lanjut pria yang juga Guru Besar Ekonomi dan Bisnis di Universitas Indonesia.

Rhenald mengatakan kalau akhirnya harus masuk ke di lingkaran perang harga, kalian harus siapkan strategi khusus. Tujuannya agar bisa menikmati keuntungan dari perang harga.

"Price kompetisi, maka kita harus siap batas bawah berapa? modal kita berapa? berapa besar kita sanggup untuk bayar ciptakan loyalitas dan kemudian kita harus tahun kapan kita harus dapat duitnya, nah kalau enggak bisa masuk ke sana, kita harus bisa ciptakan keunikan, jangan masuk ke produk yang banding-bandingi," paparnya.

Selain itu Rhenald katakan untuk bisa dapat survive di era pandemi dan digital yakni pengetahuan serta jaringan. Dua rumusan itu akan membuat bisnis kalian lebih adaptif.

"Jangan hanya mengandalkan insting bisnis dari apa yang membentuk kita, karena kita dibentuk dari kondisi pengetahuan beberapa tahun yang lalu, tapi hari ini aturan bisnis, ketentuan bisnis serba baru. Kalau kita punya pengetahuan, akan memudahkan kita ambil keputusan. Karena ketika kita menggerakan uang, menggerakan bisnis basisnya pengetahuan," pungkasnya.

(edo/fuf)