Menkeu: Bayar Utang IMF Tergantung Proyeksi Neraca
Selasa, 09 Mei 2006 05:22 WIB
Jakarta - Pembayaran utang IMF merupakan keputusan Bank Indonesia (BI). Namun keputusan ini tergantung pada proyeksi situasi neraca pembayaran."Utang dari IMF termasuk balance of payment support dan seluruh dananya ada di BI. Jadi keputusan mengembalikan utang IMF, tepat waktu atau lebih cepat, tergantung pada proyeksi mengenai situasi neraca pembayaran," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani usai mengikuti sidang Kabinet di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Senin (8/5/2006). Jika BI mengandaikan neraca pembayaran memiliki kondisi sangat kuat, baik sisi capital inflow yg menyebabkan meningkatkan cadangan devisa meningkat, maka BI bisa mempertimbangkan untuk mempercepat pembayaran.Itu semua terdiri dari cross of money yang harus dikelola dari sisi dana dari IMF yg harus dibayar versus kemampuan untuk mengelola cadangan dengan tingkat return yg dihadapi. "Dari sisi persepsi keseluruhan, kalau memang persepsi antara fund manager bahwa kondisi perekonomian Indonesia makin baik, likuidas dari luar juga kembali begitu banyak, maka kemungkinan mendapatkan capital inflow masih aman," tambah Sri.Namun, menurut Sri, BI akan pertimbangkan secara hati-hati seluruh aspek. "Tidak hanya teknis kalkulasi biaya dari dana, tapi juga neraca pembayaran dan stabilitas makro," imbuhnya. Apabila masih ada cadangan untuk impor 4 bulan, apakah pemerintah menilai ini aman?Dijelaskan Sri, seluruh indikator berdasar kebutuhan bulan import ditambahkan dengan kebutuhan bayar utang yang jatuh tempo kurang dari 12 bulan. "Termasuk dalam aspek yang akan dipertimbangakan BI atas kemampuan kita membayar kembali lebih cepat," tegasnya. Pemerintah dan BI dalam hal ini, bertanggung jawab menjaga seluruh konsistensi kebijakan ekonomi makro. Jadi, bila dalam sisi kebijakan komunikasi, konsekewensi dan berbagai proyeksi tentu dikomunikasikan bersama.
(wiq/)











































