Jika RI Lunasi Utang
IMF Tidak Akan Kenakan Penalti
Selasa, 09 Mei 2006 13:10 WIB
Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) menyerahkan sepenuhnya keputusan percepatan pelunasan utang kepada pemerintah Indonesia. Yang pasti, IMF tidak akan mengenakan penalti jika Indonesia ingin mempercepat pembayaran utang.Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia, Stephen Schwartz usai bertemu dengan Menko Perekonomian Boediono di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (9/5/2006)."Itu masih sepenuhnya keputusan pemerintah, yang tidak membutuhkan pembicaraan formal karena tidak ada penalti bagi negara-negara anggota jika mereka mempertimbangkan kemungkinan percepatan pembayaran utang," ujar Schwartz.IMF juga menilai, jika Indonesia mampu melunasi utang, maka itu tanda bahwa perekonomian Indonesia sudah pulih dan meningkatnya cadangan devisa Indonesia.Namun Schwartz mengaku tidak membicarakan masalah percepatan pelunasan utang tersebut dalam pertemuannya dengan Boediono. Menurut Schwartz, dirinya berdiskusi mengenai kondisi ekonomi makro Indonesia misalnya pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kebijakan belanja pemerintah, kebijakan moneter dan suku bunga BI."Kami juga akan bertanya kepada pemerintah mengenai progress paket kebijakan investasi yang saat ini tampaknya terus maju dan kami belum bisa memberikan penilaian karena ini masih pertemuan awal tentang progres itu," katanya.Terhitung mulai 2-19 Mei 2006, tim IMF akan berkonsultasi dengan pemerintah untuk membahas kemajuan Indonesia.Rapat Dewan Eksekutif IMF akhir April lalu memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga pinjaman IMF. Menaikkan suku bunga pinjaman pada negara berkembang menurut IMF tidak lah adil."Sebenarnya suku bunga itu berubah setiap pekan, tergantung dari suku bunga pasar. Dalam hal kebijakan penentuan dan formula suku bunga, Dewan IMF menolak setiap usulan untuk meningkatkan suku bunga," ujarnya.Saat ini suku bunga pinjaman IMF berkisar antar 4,8 persen, namun suku bunga ini sifatnya mengambang dan setiap saat bisa berubah sesuai mekanisme pasar setiap pekannya.Schwartz juga ingin menekankan bahwa suku bunga ini berbeda dengan pinjaman lain karena disimpan sebagai cadangan devisa BI."Dan apa yang dilakukan BI dengan cadangan devisa tersebut adalah menginvestasikan cadangan devisa tersebut ke luar negeri dalam aset yang sangat aman seperti US Treasury, dan surat utang negara lain. Sehingga itu juga memperoleh bunga, sehingga investasi itu memberi kompensasi untuk pembayaran bunga kepada IMF," katanya.
(qom/)











































