SBY Cemaskan Perkembangan Harga Minyak Dunia

SBY Cemaskan Perkembangan Harga Minyak Dunia

- detikFinance
Selasa, 09 Mei 2006 15:32 WIB
Jakarta - Lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus level US$ 77 per barel membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono cemas. Jika harga minyak tak segera turun, perekonomian dunia akan terancam.Kecemasan SBY disampaikan saat memberikan sambutan dalam "The 2006 Asia Pacific Conference and Expo on Banking Technology" (APCONEX 2006) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (9/5/2006).SBY menjelaskan, ada dua tantangan yang harus dihadapi oleh perekonomian Indonesia saat ini. Pertama, belum pulihnya daya beli masyarakat setelah adanya kenaikan harga BBM pada tahun 2005 lalu yang menyebabkan lonjakan inflasi.Tantangan kedua, perkembangan harga minyak dunia yang masih mencemaskan. "Banyak yang meramalkan jika harga minyak yang sekarang US$ 70-75 (per barel) itu tidak turun, bahkan naik, maka pengaruhnya pada ekonomi global, nasional di seluruh dunia akan sangat besar," urai SBY.SBY pun mengutip data dari Bank Pembangunan Asia (ADB) soal kenaikan harga minyak. Jika harganya melonjak hingga US$ 100 per barel, maka akan terjadi penurunan pertumbuhan di negara-negara Asia sebesar 0,6 persen."Bahkan bagi negara yang sangat tergantung minyak, bisa mengalami resesi bahkan kolaps ekonomi nasionalnya. Dan ini dahsyat. Bukan hanya konsumen yang terpukul, tapi produsen pun dalam mata rantainya akan mengalami persoalan," ujar SBY.Oleh karenanya, lanjut SBY, perlu dikembangkan kebijakan energi yang tepat. Dan pemerintah pada tahun lalu telah mengeluarkan sebuah kebijakan energi."Saya pantau pemimpin-pemimpin dunia bahkan negara maju pun mengeluarkan new energy policy yang mirip dengan energy policy kita. Seperti penghematan energi yang berlanjut dan struktural, diversifikasi dsb," ujar SBY dengan bangga.Lebih lanjut SBY meminta kesiapan semua pihak menghadapi lonjakan harga minyak agar tidak mengguncang perekonomian. "Oleh karena itu, harus disiapkan langkah atau policy yang baru. Tapi yang paling penting tetap memperhatikan daya beli masyarakat," tandasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads