Kenapa Ya Harga Minyak Goreng Sempat Meroket?

ADVERTISEMENT

Kenapa Ya Harga Minyak Goreng Sempat Meroket?

Iffa Naila Safira - detikFinance
Jumat, 28 Jan 2022 11:52 WIB
Penjual minyak goreng di Pasar Karangayu Semarang, Kamis (27/1/2022)
Minyak Goreng Mahal/Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng
Jakarta -

Harga minyak goreng sempat melambung tinggi sejak menjelang natal 2021 dan tahun baru 2022 (Nataru), baik yang curah ataupun kemasan. Hal ini dikarenakan harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak nabati yang berasal dari tanaman buah kelapa sawit ikut naik.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan produksi CPO yang anjlok membuat harga CPO jadi lebih tinggi, sehingga harga minyak goreng ikut naik juga.

"Secara total, produksi minyak nabati dunia anjlok 3,5% di tahun 2021. Padahal, setelah lockdown mulai dilonggarkan, permintaan meningkat. Jadi, short supply picu kenaikan harga," kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (28/1/2022).

Penyebab produksi minyak nabati itu sendiri anjlok, dikarenakan gangguan cuaca yang menekan tingkat produksi minyak nabati dunia. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan menyebutkan turunnya pasokan minyak sawit dunia, dan sawit Malaysia sebagai salah satu penghasil terbesar.

Seiring susahnya produksi CPO, pandemi COVID-19 juga menjadi penyebab utama harga minyak goreng meningkat. Pasalnya akibat COVID-19 produksi CPO ikut menurun drastis, yang membuat logistik dan harga minyak goreng mengalami kenaikan cukup tajam.

"Selain itu, juga rendahnya stok minyak nabati lainnya, seperti adanya krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi COVID-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal," terang Oke beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, justru mencurigai tingginya harga minyak goreng saat Nataru karena adanya praktik kartel dan oligopoli yang dilakukan oleh pengusaha minyak goreng dan produsen CPO.

"Saya curiga ada praktek kartel atau oligopoli. Dalam UU tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, ada larangan terkait praktek usaha tidak sehat, monopoli, oligopoli, hingga kartel. Kalau kartel pengusaha bersepakat, bersekongkol menentukan harga yang sama sehingga tidak ada pilihan lain bagi konsumen," kata Tulus.

Lihat juga video 'Lapor Pak Mendag! Harga Minyak Goreng Masih Rp 20 Ribu di Tasikmalaya':

[Gambas:Video 20detik]



(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT