Digaji Kecil, Krisis Penitipan Anak di AS Menggila

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 29 Jan 2022 10:00 WIB
Taman Penitipan Anak (TPA) Negeri Yos Sudarso telah diresmikan awal Maret 2019. TPA itu dilengkapi dengan sarana bermain hingga materi belajar bagi anak-anak yang dititipkan. TPA Negeri Yos Sudarso yang berada di lantai dasar Blok R Kantor Wali Kota Jakarta Utara.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Bisnis penitipan anak terkena hantaman keras akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Setidaknya industri ini telah kehilangan 4.500 pekerja sejak September hingga November di Amerika Serikat (AS).

Prediksi awal dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa industri layanan penitipan anak kehilangan 3.700 tenaga kerja lagi di bulan Desember.

Berkurangnya tenaga kerja, ditambah dengan tantangan berupa upah rendah dan tunjangan yang tidak merata bagi pekerja membuat para ekonom dan pakar kebijakan membunyikan alarm.

Ekonom memperingatkan jika industri ini semakin goyah bisa menimbulkan masalah bagi seluruh pasar tenaga kerja karena orang tua yang bekerja berebut mencari perawatan untuk anak-anak mereka.

"Sekarang kita melihat penurunan (dalam pekerjaan), itu harus mengkhawatirkan banyak orang yang mengandalkan layanan ini," kata Caitlin McLean, direktur program multi-negara bagian dan internasional di University of California Berkeley's Center for the Study of Child Care Employment, disadur detikcom dari CNN, Sabtu (29/1/2022).

Bayangkan saja, ketika anak-anak harus bersekolah secara virtual, sementara layanan penitipan anak lumpuh maka orangtua tidak dapat pergi bekerja.

Industri penitipan anak sebenarnya sudah tidak baik-baik saja sejak sebelum pandemi, dan sekarang mereka benar-benar ada di titik nadir.

Meningkatnya risiko kesehatan, peraturan yang selalu berubah, dan tekanan inflasi telah meningkatkan kekhawatiran bagi penyedia penitipan anak.

"Ini jelas berbeda dari dua, tiga tahun lalu, dari sudut pandang penyedia layanan," kata Lisa Keller, yang menjalankan pusat penitipan anak berbasis rumah di Horace, North Dakota.

"Anda mengalami hari-hari yang penuh tantangan dan stres, tetapi sekarang Anda mendengar seorang anak batuk (dan Anda bertanya-tanya apakah) anak ini sedang flu, dan itu bukan masalah besar, atau kita bisa tutup selama 20 hari," sambungnya.

Makalah akademik baru yang diterbitkan awal bulan ini menemukan bahwa gangguan pada layanan sekolah dan penitipan anak mengakibatkan pengurangan jam kerja orang tua.

Menurut penelitian dari Kairon Shayne D. Garcia dan Benjamin W. Cowan di Washington State University, penutupan penitipan anak juga secara tidak proporsional mempengaruhi keluarga berpenghasilan rendah.

Gangguan pada operasi penitipan anak dapat memiliki konsekuensi jangka panjang pada pasokan tenaga kerja dan karier orangtua yang bekerja.

(toy/eds)