Harga Emas Meroket, Pedagang Kelimpungan
Jumat, 12 Mei 2006 11:10 WIB
Jakarta - Tingginya harga emas dunia yang kini di level US$ 700 per troy ounce, membuat pedagang emas kelimpungan karena sulit menjual barangnya.Masyarakat lebih memilih menjual logam mulianya untuk menikmati keuntungan dari meroketnya harga emas ketimbang melakukan pembelian."Kita terus menerus menerima buy back (penjualan kembali) emas dari masyarakat yang ingin menikmati tingginya harga emas," kata Iskandar Hussein, Direktur Eksekutif Asosiasi Pedagang Emas dan Permata Indonesia (Apepi), kepada detikcom, Jumat (12/5/2006).Kenaikan harga emas dunia ini, diakui Iskandar, telah diprediksi oleh pengusaha emas karena melihat harga minyak dan perdagangan dunia yang sedang melemah."Jadi kita tidak shock, dengan harga US$ 700 per troy ounces, karena harga emas pernah mencapai US$ 800 juta, dan kita sudah memprediksi kenaikan ini," ujar Iskandar.Dengan harga emas dunia US$ 700 per troy ounces, menurut Iskandar, harga emas murni di dalam negeri untuk 24 karat sebesar Rp 200 ribu per gram. Sedangkan harga emas putih lebih tinggi 15 persen dari emas murni. Satu troy ounces sama dengan 31,103 gram.Sebenarnya, ungkap Iskandar, penjualan emas dalam negeri sudah terseok sejak tren harga emas terus naik pada tahun lalu. "Pedagang emas mati suri, yang terjadi sekarang lebih banyak buy back, masyarakat banyak yang jual, karena keuntungannya bisa berlipat. Misalnya ketika beli dua bulan lalu harga emas masih US$ 400 troy ounces berarti hari ini konsumen yang jual hampir untung dua kali lipat," papar Iskandar.Pedagang, kata Iskandar, tidak bisa menolak penjualan kembali, karena ada aturan buy back harus diterima. Turunnya penjualan dalam negeri, membuat pengusaha emas menjual stoknya ke luar negeri terutama pasar Timur Tengah. Namun, kata Iskandar, itu pun tidak membantu karena marginnya kecil tergerus ongkos transportasi.Harga emas akhirnya tembus level US$ 700 troy ounces pada Rabu lalu (10/5/2006) -- tertinggi dalam 25 tahun terakhir -- baik di pasar London maupun New York. Investor terus memburu logam mulia ini karena melihat harga minyak yang terus naik terkena imbas negatif krisis nuklir Iran.Harga emas sempat mencapai puncaknya sebesar US$ 850 troy ounces pada Januari 1980.
(ir/)