Ekonomi RI Mau Pulih dari 'Luka Memar' karena COVID-19? Begini Caranya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 17 Feb 2022 21:15 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membagikan strategi untuk mengobati efek luka memar yang ditinggalkan pandemi COVID-19 pada perekonomian. Dia mengatakan butuh kebijakan dikalibrasi, direncanakan dan dikomunikasikan dengan baik dalam rangka mengobati luka memar imbas pandemi.

Menurutnya, salah satu yang harus didorong adalah produktivitas ekonomi dan investasi, bersama dengan strategi di bidang ketenagakerjaan dan realokasi modal.

Perry juga mengatakan negara berkembang perlu memperkuat daya tahan (resilience) dalam menghadapi dampak proses normalisasi sehingga pemulihan ekonomi dan stabilitas tetap terjaga.

"Selain itu, kerjasama antarnegara juga perlu diperkuat antara melalui Bilateral Currencey Swapt Arrangement (BCSA), dan penggunaan Local Currency Settlement (LCS) secara lebih luas untuk mendukung promosi perdagangan dan investasi," papar Perry dalam keterangannya dikutip dari lama resmi Bank Indonesia, Kamis (17/2/2022).

Dari sisi korporasi, kontribusi peran dilakukan melalui penguatan strategi bisnis dan perbankan melalui partisipasi kredit atau pembiayaan ke sektor riil. Sementara peran lembaga-lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ditempuh melalui kebijakan yang mendorong kredit pembiayaan untuk sektor prioritas.

Adapun peran dari sisi pemerintah melalui program reformasi struktural dalam menyediakan iklim investasi yang kondusif, tata niaga, perpajakan, infrastruktur, digitalisasi keuangan dan implementasi UU Cipta Kerja.

"Terkait ini, Bank Indonesia telah melakukan reformasi struktural di pasar keuangan, pendalaman pasar keuangan, digitalisasi sistem pembayaran, dan mendukung upaya pembiayaan bagi ekonomi untuk meredam scarring effect tersebut," ungkap Perry.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung menambahkan, ketidakpastian global seperti inflasi yang tinggi di sejumlah negara memengaruhi normalisasi yang dilakukan negara maju. Dengan demikian, diperlukan kebijakan untuk menjaga persepsi pasar.

Lebih lanjut, pandemi berimplikasi pada kesadaran baru pada isu digitalisasi dan perubahan iklim, dan Bank Indonesia telah melakukan langkah untuk medukung hal tersebut.

(hal/dna)