Mendag Sebut Harga Kedelai Naik Gara-gara Babi China, YLKI: Aneh!

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 19 Feb 2022 15:00 WIB
Harga kedelai terus meroket beberapa hari ini. Hal ini membuat para perajin tahu dan tempe menjerit karena beratnya ongkos produksi.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kementerian Perdagangan menyebut jika naiknya harga kedelai di Indonesia terjadi karena adanya masalah di negara importir. Selain itu cuaca buruk di Amerika Selatan (AS) juga menjadi salah satu penyebab terkereknya harga kedelai.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan jika negara China juga membutuhkan kedelai dalam jumlah besar. Pasalnya di negara itu ada sekitar lima miliar ekor babi baru yang diberi makan kedelai.

"Di China itu awalnya peternakan babi yang tadinya tak makan kedelai. Sekarang makan kedelai," kata dia dikutip dari Antara.

Menanggapi hal tersebut, ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengungkapkan jika pernyataan Menteri Perdagangan itu tidak mencerminkan baiknya kinerja pemerintah.

Menurut dia, menteri perdagangan hanya menyalahkan kondisi negara importir. "Kok jadi China dengan babinya yang dijadikan kambing hitam? Aneh, mestinya mawas diri dan evaluasi dong, kenapa kita masih menjadi importir abadi kedelai," ujar dia, dikutip detikcom, Sabtu (19/2/2022).

Tulus menyebutkan, saat ini 90% kedelai yang digunakan sebagai bahan tempe goreng dan tempe mendoan bahan bakunya masih impor. "Ini musabab utamanya, jangan lempar tanggung jawab dong. Mana daulat kedelai, mana daulat pangan? Buktikan janjinya," jelas dia.

Sebagai informasi, kebutuhan kedelai dalam negeri setiap tahunnya adalah 3 juta ton. Sementara budi daya dan suplai kedelai dalam negeri hanya mampu 500 hingga 750 ton per tahunnya.

Untuk mencukupi kebutuhan nasional akan kedelai, pemerintah kemudian melakukan impor dari beberapa negara.

Simak Video 'Dedi Mulyadi Minta Produksi Kedelai Dalam Negeri Digas Biar Tak Impor!':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/eds)