Bisnis Makanan dan Minuman Naik Daun, Simak Model Bisnisnya!

Brillyan Vandy Yansa - detikFinance
Jumat, 25 Feb 2022 19:25 WIB
Jakarta -

Mencoba peruntungan di bisnis franchise ternyata harus diimbangi dengan intuisi seorang interpreneur. CEO Baba Rafi Interprise, Hendy Setiono menjelaskan, kemampuan ini diperlukan untuk memprediksi kesinambungan usaha yang akan dijalani.

"Harus kita lihat apakah usaha tersebut sesuai dengan passion kita atau tidak. Kemudian, kita harus jeli menentukan jenis usahanya. Ada bisnis yang bersifat tren atau bersifat sementara, dan ada yang bersifat long term. Kita harus melihat dan identifikasi bisnis yang akan kita masuki. itu butuh interpreneurial skill untuk melihat usaha apa yang akan berkembang lima hingga sepuluh tahun lagi," kata Hendy dalam d'Mentor Kamis (24/02/2022).

Lebih lanjut Hendy menjelaskan, pada tahun 2022 bisnis waralaba yang masih menjanjikan ada di sektor makanan dan minuman. Pembedanya adalah model bisnis yang berjalan. Hendy menyebut tren mulai bergeser dari dine-in experience menjadi cloud kitchen.

"Dulu membuat tempat makan menjadi menarik itu penting. Dibuat instagramable sehingga pengunjung bisa foto-foto kemudian share ke teman-temannya untuk datang. Sekarang, budget tersebut bisa dipakai untuk kolaborasi bersama influencer dan content creator untuk mengangkat exposure terhadap brandnya supaya lebih terkenal lagi," terang Hendy.

Dalam kesempatan tersebut, Hendy Setiono memberi tips usaha makanan seperti apa yang dapat berkembang cepat.

"Bisnis kuliner yang menurut saya bagus adalah bisnis kuliner yang agile, take away friendly, dan affordable sesuai dengan kondisi market saat ini," ungkap Hendy.

Sementara itu terkait perencanaan modal usaha, Safir Senduk pakar perencana keuangan menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berkaitan dengan dana Jaminan Hari tua yang akan diterima, setiap orang perlu memikirkan tanggungan finansial yang dibebankan kepada masing-masing personal.

"Semakin banyak tanggungan kita, semakin besar juga tameng yang perlu kita bawa. Kalau orang masih single, mungkin perlu disiapkan 10 persen dar JHT yang ia terima. Tapi kalau ia menanggung 1 hingga 3 orang, atau mungkin punya banyak cicilan yang banyak, mungkin 35 persen (JHT) itu bisa ia investasikan atau ia tabung. Sisanya, baru lah bisa dia gunakan untuk modal usaha," tutup Safir.

Simak Video 'Pilih Franchise Autopilot atau Reguler?':

[Gambas:Video 20detik]



(vys/ids)