Indonesia Tempati Posisi Buncit Dalam Performance Economic

Indonesia Tempati Posisi Buncit Dalam Performance Economic

- detikFinance
Rabu, 17 Mei 2006 02:19 WIB
Jakarta - Indonesia menempati posisi buncit dalam survey dalam aspek Performance Economic dari 60 negara di dunia. Survey itu dikeluarkan dari data World Competitiveness pada 2005.Hal tersebut diungkapkan Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno saat membuka Rakornas KADIN di Crown Plaza, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/5/2006). Menurutnya, hal tersebut terungkap saat Pada Pertemuan Menteri Tenaga Kerja se-ASEAN di Singapura."Yang jadi masalah Indonesia adalah masalah produktivitas tenaga kerja," kata Erman.Usai menyampaikan hal itu, Erman lantas buru-buru minta hadirin yang hendak bertepuk tangan menghentikan tindakannya. "Saya minta jangan tepuk tangan. Ini bukan berita bagus," hardiknya.Erman menambahkan, Indonesia bukan hanya yang terburuk dalam daya saing tapi juga dari efisiensi bisnis, efisiensi penampilan, dan efisiensi pemerintahan. "Dalam efisiensi bisnis, dari 60 negara yang disurvey, Indonesia berada di posisi 59. Government Efficiency, kita posisi ke-55. Sedangkan dari overall productivity, kita peringkat ke 59. Inilah survey tingkat daya saing indonesia," ungkap Erman.Berita buruk tentang Indonesia tidak hanya sampai di situ. Erman menambahkan, berdasarkan laporan Bank Dunia berdasarkan iklim investasi, dari 155 negara, Indonesia masuk ke 115.Melihat permasalahan ini, Erman merasa prihatin melihat posisi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki kelebihan dalam bidang SDM. "SDM kita punya kelebihan yang tidak dimiliki negara lain. Yakni solidaritas kultur budaya," jelasnya.Untuk mengatasi hal itu, menurutnya ada solusi yang dinamakan 3 in 1. Yakni strategi penegmbangan SDM yang didasarkan pada pendekatan terpadu atas 3 aspek. Ketiga aspek itu meliputi pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan. Strategi ini diperlukan untuk menjamin kualitas SDM tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pengguna industri."Paradigma pelatihan atau training yang sifatnya peningkatan kompetensi yang dilanjutkan dengan magang akan lebih bagus. Sekarang 40 ribu tenaga kerja kita magang di Jepang, kenapa di negara kita tidak bisa," ujarnya heran. (ary/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads