ADVERTISEMENT

Vladimir Putin Bakal Larang Investor Asing Cabut dari Rusia

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 01 Mar 2022 22:15 WIB
Russian President Vladimir Putin attends a meeting with Jordans King Abdullah at the Bocharov Ruchei state residence in Sochi, Russia November 24, 2015. Speaking before a meeting with Jordans King Abdullah, Putin called Turkeys downing of a Russian fighter jet a stab in the back carried out by the accomplices of terrorists, saying the incident would have serious consequences for Moscows relations with Ankara. REUTERS/Maxim Shipenkov/Pool
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: REUTERS/Maxim Shipenkov/Pool)
Jakarta -

Presiden Vladimir Putin akan melarang investor asing cabut dari Rusia. Itu dilakukan agar para investor dapat mengambil keputusan dengan kepala dingin, bukan atas dasar dorongan tekanan politik.

Dana Kekayaan Negara atau Sovereign Wealth Fund Rusia juga akan ditekan untuk bertindak, yakni membelanjakan hingga US$ 10,3 miliar untuk membeli saham di perusahaan-perusahaan Rusia.

"Dalam situasi sanksi saat ini, pengusaha asing dipaksa untuk dipandu, bukan oleh faktor ekonomi, tetapi untuk membuat keputusan di bawah tekanan politik," kata Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dalam pertemuan pemerintah disadur detikcom dari Reuters, Selasa (1/3/2022).

"Untuk memberikan kesempatan bisnis untuk mempertimbangkan keputusannya, perintah presiden disiapkan untuk memberlakukan pembatasan sementara," lanjutnya.

Pihak berwenang Rusia bergegas untuk menanggapi sanksi yang semakin keras yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat sejak Rusia menginvasi Ukraina Kamis lalu.

Langkah-langkah tersebut berkisar dari pembatasan kemampuan bank sentral untuk menggunakan emas dan cadangan devisanya, hingga mengucilkan bank-bank besar Rusia dari sistem keuangan internasional.

Pada hari Senin, jatuhnya rubel ke posisi terendah sepanjang masa memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga utamanya menjadi 20% dan meminta perusahaan pengekspor untuk menjual valas untuk mendukung mata uang tersebut.

Perusahaan global yang telah beroperasi di Rusia selama beberapa dekade mengatakan mereka akan menghentikan investasi, termasuk BP dan Shell, pemegang saham masing-masing di perusahaan energi terkemuka Rusia Rosneft dan kilang LNG Sakhalin 2.

Mishustin mengatakan Rusia terbuka untuk berdialog dengan investor yang berpikiran konstruktif.

"Kami berharap siapa yang berinvestasi ke negara kami akan dapat bekerja di sini lebih lanjut," tambahnya.

(toy/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT