PLN Akui Tidak Mampu Bayar Utang BBM ke Pertamina
Rabu, 17 Mei 2006 19:30 WIB
Jakarta - Malang nian nasib BUMN yang mengurusi soal listrik ini. Berkali-kali diterpa kasus korupsi yang menyebabkan pejabatnya ditahan. Kini, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengaku tidak mampu membayar utang BBM yang sudah menumpuk ke Pertamina. Akibat beban kenaikan harga BBM Oktober lalu, kondisi keuangan PLN semakin berat. Apalagi perusahaan ini masih sangat bergantung pada subsidi listrik dari pemerintah. Sialnya lagi, sampai bulan Mei ini, belum seperak pun dana subsidi sebesar Rp 17 triliun itu turun. Padahal, PLN sudah mengajukan 2-3 kali surat permohonan ke Departemen Keuangan."Bagaimana kita mau bayar ke Pertamina, wong tidak punya uang," kata Direktur Keuangan PT PLN Parno Isworo, usai acara Diskusi Peluang Investasi dan Jaminan Keamanan Investasi Kelistrikan di Indonesia, di Hotel Hilton, Jakarta, Rabu (17/5/2006).Selain dana subsidi listrik tahun ini, masih ada subsidi listrik tahun lalu sebesar Rp 3,6 triliun yang belum dibayar pemerintah. Hutang BBM PLN ke Pertamina sendiri, sudah mencapai 18,8 triliun. "Subsidi itu untuk menghidupi PLN, bukan untuk investasi. Kalau mau ditutup lewat pinjaman tidak bisa, jadi kita kembalikan ke Depkeu, supaya subsidi bisa dicairkan," kata Parno.Diakui Parno, kekurangan biaya operasional sudah tidak bisa ditutup dengan efisiensi. Meskipun begitu, PLN tetap berusaha supaya tidak terjadi pemadaman. "Kita tidak boleh pesimistis untuk menurunkan biaya produksi. Jadi konsentrasi kita sekarang bekerja untuk menurunkan biaya produksi," kata Parno.
(mar/)











































