Pengusaha Tuding Malaysia Pembuat Jamu Palsu Indonesia
Jumat, 19 Mei 2006 01:08 WIB
Jakarta -
Merajalelanya dalam setahun belakangan ini jamu merek Indonesia yang dipalsukan oleh sindikat Malaysia dikhawatirkan akan mencoreng nama baik jamu Indonesia. Pasalnya jamu-jamu ini bukan berkhasiat, tapi malah mengancam jiwa peminumnya.Oleh karena itu Departemen Perindustrian akan segera melakukan operasi gabungan dengan melibatkan lintas sektoral. "Pelakunya mafia perusahaan besar yang berlokasi di border antara Thailand-Malaysia. Lucunya yang merek palsu dalam jamu itu tertulis bukan buatan Malaysia tapi Indonesia," kata Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional (GP Jamu Indonesia) Charles Saerang saat menemui Menteri Perindustrian, Fahmi Idris di kantornya Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (18/5/2006).Menurutnya bagi para penjual, pasti akan mengetahui ciri jamu palsu ini. Tapi buat pembeli yang awam tidak akan tahu karena sama persis dengan jamu asli. Dan biasanya harganya lebih murah 10 persen dan yang dipalsu rata rata berkhasiat sebagai pengurus badan, flu tulang, asam urat, sesak nafas, darah tinggi, dan obat kuat."Akibatnya pengusaha jamu dalam negeri dirugikan perbulannya Rp 15 miliar. Sementara omset pertahun produk jamu se-Indonesia mencapai 2,7 hingga 3 triliun," papar Charles.Charles juga menjelaskan mafia tesebut lebih memilih jamu Indonesia karena negara luar lebih percaya produk Indonesia. Dikhawatirkan karena jamu ini dikomposisikan tidak dari ramuan tradisional tapi dari kimia, justru akan membahayakan jiwa peminumnya."Jamu palsu bukan saja berada di Malaysia dan Indonesia tapi juga sudah diekspor ke negara lain seperti Singapura," tutur Charles.Charles mengaku heran dengan nilai ekspor jamu Malaysia yang tercatat mencapai 800 juta dolar. Padahal Malaysia tidak punya industri jamu sedangkan Indonesia yang merupakan produsen terbesar kedua setelah Brazil nilai ekspornya hanya 300 juta dolar."Bukan itu saja masalah yang menimpa jamu dalam negeri, ternyata ditemukan ada jamu illegal yang menggunakan obat-obat kimia yang telah kadaluarsa. Disinyalir pensuplainya dari BUMN farmasi. Sedangkan obat kimia yang berbahaya adalah aspirin, parasetamol dan steroid yang berdampak lever bisa pecah dan ginjal rusak," jelas Charles yang juga direktur PT Nyonya Meneer ini.Sementara itu, Departemen Perindustrian bersama Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia sepakat mengadakan operasi gabungan lintas sektoral untuk menghilangkan masalah di industri jamu dan memberantas perdagangan ilegal."Saya minta asosiasi merumuskan masalah dan ususlan yang akan saya bawa untuk dikoordinasikan ke rapat gabungan lintas sektoral, karena pusat jamu ada di Jateng, maka saya akan koordiansi dengan Gubernur Jateng, Mardianto, Depkes, Badan POM , kepolisian dan kejaksaan," urai Fahmi.
(ahm/)










































