AS Dihantui Resesi di Tengah Rencana The Fed Kerek Suku Bunga

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 14 Mar 2022 08:15 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) berencana mengerek suku bunga acuan tanpa mendorong perekonomiannya ke dalam resesi. Namun, hal itu diperkirakan tidak mudah di tengah perang Rusia-Ukraina.

Inflasi AS telah mendekat 8%. Bank sentral tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk menaikkan suku bunga acuan. Sementara, konflik di Eropa telah membuat harga energi melesat dan merusak ekonomi di seluruh dunia.

Mengerek suku bunga acuan sambil memastikan ekonomi terus berkembang adalah tantangan baru bagi pejabat The Fed yang telah menghabiskan dua tahun mengatasi pandemi dan kejutan di pasar tenaga kerja.

Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell telah mengingatkan bahwa perang dapat memicu inflasi dan menyebabkan rumah tangga mengurangi pengeluaran. Namun, dia juga mengindikasikan bahwa konflik tersebut tidak mengubah pemikiran bank sentral tentang suku bunga.

"Untuk memastikan bahwa ekonomi terus berkembang dan menghindari resesi, saya pikir penting untuk menormalkan suku bunga," kata Chief Economist Moody's Analytics Mark Zandi kepada House Financial Services Committee dikutip dari CNN, Senin (14/3/2022).

Hampir semua investor memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 0,25% menurut CME's FedWatch Tool. Kenaikan suku bunga ini akan menjadi yang pertama sejak akhir 2018.

"Kunci untuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah adalah menghindari resesi," kata Zandi

Hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ekonom Goldman Sachs mengatakan pekan lalu bahwa peluang resesi di AS selama tahun depan telah meningkat hingga 35%.

Pihaknya melihat sedikit atau tidak ada pertumbuhan selama tiga bulan pertama tahun 2022. Rumah tangga berpenghasilan rendah yang sudah berjuang dengan harga tinggi akan terpukul keras.

Tren inflasi pandemi dimulai dengan produk dan layanan yang terkait dengan tingginya permintaan dan gangguan rantai pasokan seperti mobil. Harga yang lebih tinggi segera menyebar ke seluruh perekonomian.

(acd/ara)