Minyak US$ 100 Bukan Khayalan

Minyak US$ 100 Bukan Khayalan

- detikFinance
Sabtu, 20 Mei 2006 13:46 WIB
Jakarta - Sejumlah analis top di AS memperkirakan harga minyak akan segera menyentuh level US$ 100 per barel.Perkiraan tersebut diyakini bukan sekadar mimpi, karena melihat persediaan minyak bakal kacau seiring meningkatnya suhu geopolitik di beberapa negara.Seperti dikutip yahoo news atas analisis Platts Energy Economist, Sabtu (20/5/2006), akhir Mei lalu, perusahaan investasi asal AS, Goldman Sachs menaikkan prediksi harga minyak hingga US$ 105 per barel.Peringatan dari Goldman Sachs yang dirilis di wall street ini, karena melihat pergerakan harga minyak belakangan yang sangat tajam.Saat ini harga minyak untuk kontrak pengiriman bulanan di New York Mercantile Exchange (Nymex) rata-rata sudah di atas US$ 65 per barel. Harga minyak pernah menyentuh level tertinggi US$ 75,35 per barel pada 21 April lalu.Proyeksi awal ini menggunakan asumsi seriusnya masalah persediaan minyak yang membawa harga minyak bergerak cepat ke level tertingginya.Sebelum harga minyak di pasar mendekati level US$ 75 per barel, memang ada kombinasi sejumlah faktor yang secara keseluruhan mengganggu persediaan minyak dunia.Faktor tersebut adalah masalah geopolitik tentang wacana program nuklir Iran, belum terkendalinya keamanan di Irak dan aksi militan di Nigeria.Akibatnya, dalam waktu singkat harga minyak di pasar menjangkau US$ 75 per barel, karena ketakutan akan timbulnya malapetaka yang bisa mengganggu suplai minyak.Hal ini terlihat kontras dengan harga pada awal semester dua tahun lalu, yang dipicu oleh bencana yang benar-benar sudah terjadi, seperti serangan topan Katrina yang begitu hebat di Teluk Meksiko.Fakta yang terjadi saat ini, persediaan fisik minyak tidak begitu banyak mempengaruhi harga, meskipun OPEC juga tetap mematok harga moderat.Struktur harga minyak internasional lebih mengacu pada harga minyak jenis brent, yang aneh. Harga minyak untuk pengiriman ke depan dibuat lebih tinggi daripada pengiriman sekarang.Secara tradisional, seharusnya volume yang tinggi akan membuat harga komoditi menjadi rendah dan stasiun penjualan bahan bakar pun tidak ada indikasi kekurangan minyak secara fisik.Apalagi jika persediaan dan produksi minyak di AS dan beberapa negara industri utama juga dalam posisi sehat.Tapi sayangnya, harga minyak ke depan akan lebih banyak diputuskan oleh permintaan utama dari pasar berjangka.Meski di pasar berjangka tidak memiliki fundamental dalam menentukan biaya produksi atau pengembalian modal, tapi harga minyak dalam satu hari bisa dibuat ke level US$ 70, US$ 80 atau mendekati US$ 100.Ini karena lebih tergantung pada besarnya jumlah uang yang dimainkan spekulan yang berniat menjaga posisi mereka.Akibatnya, meski tidak ada kekurangan persediaan minyak di kilang, tapi pasar fisik tidak dapat lagi mempengaruhi harga.Harga di pasar berjangka lebih banyak mendorong harga minyak saat ini karena permainan arus modal yang sangat besar. Pemilik modal besar ini menjadi kunci terhadap posisi ke depan suplai minyak dan menentukan posisi supply dan demand.Harga minyak yang tinggi saat ini ikut membawa harga sejumlah komoditi melebihi perkiraan semula, dan ini semua bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.Selanjutnya, harga minyak tinggi juga akan mempengaruhi inflasi, suku bunga yang naik, dan terganggunya perdagangan dunia.Beberapa tahun ke depan, harga minyak masih akan tergantung pada masalah suplai. Namun ketika harga minyak sangat bergejolak akan menjadi magnet yang tinggi terhadap pergerakan harga di pasar berjangka.Dalam jangka pendek, harga minyak juga memiliki sejumlah kartu liar yang tidak hanya menyangkut masalah geopolitik, tetapi lebih karena perubahan yang sangat dinamis di pasar berjangka.Akibatnya, bukan tidak mungkin harga minyak menyentuh US$ 100 per barel menjadi sesuatu yang nyata. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads