Takut Perusahaannya Diserang Hacker Rusia, AS Mulai Ketar-ketir

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 24 Mar 2022 08:36 WIB
Spyware
Foto: dok ITPro
Jakarta -

Konflik antara Rusia dan Ukraina membuat Amerika Serikat (AS) berada dalam bayang-bayang ancaman serangan siber.

Presiden AS Joe Biden meminta kepada para pimpinan perusahaan AS untuk memperkuat pertahanan sistem mereka. Dia menyebut Rusia bisa saja menempuh serangan siber untuk balas dendam kepada negara yang memberinya sanksi.

"Mereka punya kemampuan itu. Memang belum ada tanda-tanda hal itu dilakukan," kata Biden dalam acara Business Roundtable Quarterly Meeting di Washington, dikutip dari CNN, Kamis (24/3/2022).

Sebelumnya FBI juga telah memperingatkan peretas yang terhubung ke alamat internet Rusia telah memindai jaringan lima perusahaan energi AS.

Para ahli juga telah memperingatkan sistem AS yang rentan dan bisa dibajak oleh peretas Rusia.

Eks analis Badan Keamanan Nasional David Murphy mengungkapkan masih ada ancaman selama konflik Rusia dan Ukraina masih terjadi. Karena itu perusahaan diminta untuk melindungi diri mereka dari ancaman tersebut.

Dia juga menyebut jika keamanan sistem perangkat lunak yang kuat bisa mencegah serangan yang bertubi-tubi. Apalagi update atau pembaruan perangkat lunak ini biasanya sudah dilengkapi keamanan ekstra.

Keamanan seperti kata sandi dan metode login tambahan dengan sandi dari perangkat terpisah hingga pemindaian sidik jari merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan perusahaan.

Direktur Pelaksana Cyber Readiness Institute Karen Evans mengungkapkan para perusahaan juga harus memiliki rencana darurat jika mereka terlanjur diserang. Salah satu cara terbaik adalah memiliki cadangan data penting yang disimpan di luar sistem.

Dengan meningkatnya risiko serangan ini, seperti ransomware, banyak perusahaan yang membeli asuransi untuk memproteksi sistem dari serangan siber.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan asuransi siber ini memang terus mengalami peningkatan. Bahkan perusahaan asuransi ini telah mengerek premi hingga 22% sejak 2019 dan 2020.

Banyak perusahaan menyebut asuransi ini adalah langkah yang tepat untuk melindungi dari serangan dan meningkatkan kewaspadaan sejak awal.

Memang asuransi ini sangat mahal tetapi perusahaan bisa mendapatkan keamanan karena bisnis terlindungi.

Simak Video 'Dubes Rusia Bicara soal Perang Dunia Ketiga':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/das)