Pipa Gas BP Bocor, Sistem Listrik Jawa-Bali Kritis!
Senin, 22 Mei 2006 12:53 WIB
Jakarta -
Sistem kelistrikan di Jawa Bali kembali kritis. Kali ini penyebabnya adalah terjadinya kebocoran pada pipa gas (24 inci) di bawah laut dari lapangan gas APN milik BP West Java Ltd (BP-WJ). Dengan alasan keamanan, BP-WJ telah mematikan sumur gas APN. Investigasi tengah dilakukan untuk mengetahui penyebab, besarnya kerusakan serta evaluasi rencana perbaikan. Dalam perkiraan awal, perbaikan kemungkinan memerlukan waktu 2 minggu."Dengan ditutupnya sumur gas APN tersebut, maka pasokan gas untuk pembangkit PLTGU Muarakarang (500 MW) dan PLTGU Priok (1.050 MW) berkurang dari 260 MMSCFD menjadi sekitar 130 MMSCFD," ujar General Manajer (GM) Pusat Pengaturan dan Pengendalian Beban, Muldjo Adji dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Senin (22/5/2006). Dengan pasokan gas yang tersisa 130 MMSCFD, lanjut Muldjo, maka total tenaga listrik yang dapat dibangkitkan dari PLTGU Muarakarang dan PLTGU Priok berkurang 750 MW. "Pengurangan kemampuan pembangkit tersebut sangat mempengaruhi pasokan tenaga listrik di sistem Jawa Bali," jelas Muldjo. Dijelaskan, pihak PLN telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi besarnya kekurangan pasokan listrik tersebut. Caranya, dengan mengoperasikan 2 Unit PLTGU Priok yang tidak mendapat bagian gas tersebut dengan bahan bakar pengganti yaitu solar. Dengan demikian, kekurangan listrik bisa diperkecil menjadi sekitar 500-600 MW. Muldjo menjelaskan, kebutuhan tambahan solar yang harus disediakan oleh Pertamina untuk PLTGU Priok akibat terganggunya pasokan gas tersebut setiap harinya adalah 1.600 kiloliter yang setara dengan Rp 8,2 mililar per hari, dengan harga solar Rp 5.129 per liter. "Jadi kalau perbaikannya membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, maka PLN harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 115 miliar," tambah Muldjo.
(qom/)










































