Krakatau Steel Diminta Berkorban

Sistem Jawa-Bali Kritis

Krakatau Steel Diminta Berkorban

- detikFinance
Senin, 22 Mei 2006 13:25 WIB
Jakarta - Sistem Jawa-Bali tengah mengalami krisis listrik sekitar 300 megawatt (MW) akibat rusaknya pipa gas (24 inci) di bawah laut dari lapangan gas APN milik BP West Java Ltd (BP-WJ). Akibatnya, PLTGU Muarakarang dan PLTGU Priok berkurang pasokannya sebesar 750 MW."Mengingat PLTGU Muarakarang dan PLTGU Priok yang berlokasi di pantai utara Jakarta merupakan pasokan utama, maka pasokan listrik untuk Jakarta dan sekitarnya dalam 'status siaga'," ujar General Manajer (GM) Pusat Pengaturan dan Pengendalian Beban, Muldjo Adji dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Senin (22/5/2006).Menurut Muldjo, hal ini disebabkan karena beberapa instalasi yang mengalirkan daya listrik ke Jakarta akan dibebani cukup tinggi, antara lain SUTT 150 kV Gandul-Petukangan-Durikosambi, SKTT Kembangan-Durikosambi, interbus transformer (IBT) di Gandul, Bekasi dan Cibinong.Untuk itu, PT PLN (persero) pun akan meminta kesediaan konsumen gas besar seperti PT Krakatau Steel untuk berkorban mengurangi pemakaian listrik dari PLN pada saat beban puncak."Dan kepada seluruh konsumen industri dan pelanggan rumah tangga diharapkan ikut membantu mengurangi pemakaian listriknya pada saat beban puncak," tambah Muldjo.Dengan tersendatnya pasokan gas, kini PLN mengandalkan solar sebagai bahan bakar pengganti. Padahal, pasokan solar pun selama ini sering seret. Bahkan pada Sabtu, 20 Mei 2006, persediaan solar untuk PLTGU Muaratawan hanya cukup untuk 3 hari. Pengisian solar selanjutnya baru dilakukan pada 25 Mei.Sedangkan di PLTGU Tambaklorok, bila dibebani penuh, diperkirakan solar akan habis pada 24 Mei 2006, dengan jadwal pengisiannya selanjutnya pada 25 Mei 2006. PLTGU Grati, dari 6 unit pembangkit yang siap operasi, saat ini hanya 1 unit yang bisa dioperasikan karena keterbatasan persediaan bahan bakar solar. Pengisian dijadwalkan pada 22 Mei 2006.Tiga pembangkit yang bisa diandalkan juga belum bisa beroperasi. Seperti PLTU Cilacap (2 x 300 MW), PLTU Tanjung Jati B (2 x 660 MW) yang menggunakan bahan bakar batubara, serta PLTGU Cilegon (740 MW) berbahan bakar gas rencananya baru mulai operasi komersial pada bulan Juni dan Juli 2006."Maka memang pilihan terakhir yang bisa membantu mengatasi masalah saat ini adalah penghematan besar-besaran yang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh pelanggan," ujar Muldjo.Selama krisis listrik sebesar 300 MW yang diperkirakan berlangsung selama 2 minggu, Muldjo meminta masyarakat berhemat dengan mengurangi pemakaian listrik selama 50 watt atau setara dengan 1-2 lampu."Apabila 50% dari jumlah pelanggan di Jawa Bali yang saat ini sekitar 20 juta pelanggan bersepakat dan melakukan penghematan tersebut, maka pemakaian listrik di Jawa Bali saat beban puncak akan berkurang sebesar 500 MW, yang berarti PLN tidak perlu melakukan pemadaman kepada pelanggannya," urai Muldjo. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads