Masyarakat RI Mulai Rajin Belanja, Apa Ya Penyebabnya?

ADVERTISEMENT

Masyarakat RI Mulai Rajin Belanja, Apa Ya Penyebabnya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 25 Mar 2022 15:14 WIB
Ilustrasi belanja
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kuartal I tahun 2022 belanja masyarakat disebut sudah melampaui level tertinggi sepanjang pandemi COVID-19. Dari catatan Mandiri Spending Index (MSI) disebutkan mencapai 143,3 pada minggu pertama Januari 2022.

Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono mengungkapkan jika angka ini tumbuh 31% dibandingkan periode Januari dan naik 16% dibanding Februari 2022.

Teguh menyebutkan hal ini juga seiring dengan persiapan ramadan dan lebaran 2022 dan pelonggaran mobilitas. "Belanja kami perkirakan meningkat hingga pertengahan Mei 2022 untuk periode kuartal I 2022 akan lebih tinggi dibanding kuartal I 2021," kata dia dalam keterangan resmi, Jumat (25/3/2022).

Dia mengungkapkan program vaksinasi ini juga menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan ekonomi. Program ini bertujuan mengurangi risiko penularan COVID-19 secara signifikan.

Menurut dia dampak positif dari program vaksinasi ini terlihat dari terjaganya tingkat penularan COVID-19 pasca ledakan varian Delta, meski terjadi kenaikan mobilitas masyarakat.

Hal ini menyebabkan kenaikan belanja masyarakat tidak serta merta diikuti oleh kenaikan kasus COVID-19. Situasi ini berbeda dengan kondisi sebelum program vaksinasi massal dijalankan, dimana kenaikan belanja masyarakat kemudian diikuti dengan kenaikan kasus COVID-19.

"Dengan demikian, vaksinasi harus terus diperluas dan dipercepat, terutama menjelang peningkatan mobilitas masyarakat yang masif pada periode mudik Lebaran nanti," tambahnya.

Teguh menjabarkan tingkat belanja di berbagai wilayah meningkat pada awal Maret 2022. Paling banyak terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Beberapa hal berkontribusi pada kenaikan ini, seperti pembukaan kembali pintu internasional ke Bali sejak awal Februari 2022, di mana perhelatan MotoGP Mandalika berdampak sangat signifikan pada kenaikan kunjungan masyarakat di NTB dan Bali. Di sisi lain, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, juga mencatat tingkat belanja yang tinggi terkait dengan kenaikan harga komoditas.

Menurun dan terkendalinya kasus COVID-19 saat ini mengubah komposisi belanja masyarakat. Belanja terkait alat kesehatan yang biasanya meningkat setiap ada kenaikan kasus, kini berangsur menurun.

Di sisi lain, belanja yang selalu tertekan setiap ada kenaikan kasus dan pembatasan mobilitas, seperti fesyen, kembali meningkat dan mulai berada di sekitar level prapandemi. Pelonggaran mobilitas juga membuat belanja di pusat perbelanjaan (department stores, supermarket, atau restoran) kembali meningkat.

"Kami memperkirakan tren belanja akan terus tinggi didukung periode musiman Ramadan dan Lebaran, baik yang dilakukan secara onsite maupun lewat belanja online," ujarnya.



Simak Video "Mudik Mampu Dongkrak Daya Beli Masyarakat?"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT