Fahmi Usulkan Pembangunan Pabrik Pupuk di Timur Tengah
Senin, 22 Mei 2006 14:55 WIB
Jakarta -
Seretnya pasokan gas untuk perusahaan pupuk membuat pemerintah memikirkan upaya mendirikan pabrik pupuk di dekat sumber gasnya.Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris mengusulkan, dua opsi untuk revitalisasi pabrik pupuk nasional yang sedang mengalami kesulitan pasokan gas.Pertama, pendirian pabrik pupuk baru di dekat cadangan gas besar seperti Natuna dan Tangguh. Namun wilayah Natuna dinilai lebih mudah yang letak pabriknya bisa di dekat Riau atau Kalimantan Barat.Kedua, pembangunan pabrik pupuk di Qatar, karena harga yang ditawarkan lebih murah di bawah US$ 1 per mmbtu bahkan bisa mencapai 50 sen dolar AS per mmbtu."Saat ini ada dua yang besar yakni Tangguh dan Natuna, Natuna barat sudah dieksploitasi, sedangkan yang timur belum dieksploitasi. Saya sudah menganjurkan ke Menneg BUMN salah satu pabrik mendekati Natuna bisa di Riau atau Kalimantan Barat," kata Fahmi.Hal itu disampaikan Fahmi dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (22/5/2006).Sementara dalam beberapa pembicaraan, ungkap Fahmi, gas di Qatar dan Mesir ditawarkan dibawah US$ 1 per mmbtu, sehingga akan lebih baik jika membangun pabrik pupuk di dekat negara itu."Menurut Pak Alwi Shihab yang sebagai special envoy (utusan khusus) mengunjungi Mesir dan Nigeria, sebenarnya juga ada yang lebih murah gasnya di Nigeria, tapi di sana sedang perang," jelas Fahmi.Qatar menawarkan harga gasnya pada tiga tahun pertama sejak tahun 2006 tidak melebihi US$ 1 per mmbtu. Tiga tahun kemudian harganya US$ 1,5 per mmbtu dan tiga tahun selanjutnya senilai US$ 2 per mmbtu."Padahal Pupuk Kujang membeli gas sebesar US$ 3,5-3,6 per mmbtu, artinya kita masih untung dengan harga yang ditawarkan Qatar," katanya.Menurut Fahmi, tiga hari lalu dirinya dihubungi Alwi Shihab yang mengatakan, kemungkinan melakukan investasi juga di Aljazair dan Mesir karena harga gasnya cukup murah.Untuk investasi di luar negeri tersebut, pabrik pubuk lokal kemungkinan akan menggandeng mitra strategis. "Kalau di luar negeri itu BUMN lebih bagus tapi swasta pun oke," katanya.Sementara Dirjen Industri Agro dan Kimia Depperin, Benny Wahyudi mengatakan, investasi pabrik pupuk di Timur Tengah membutuhkan dana US$ 300 juta.
(ir/)










































