Syarat Berat Nokia Bisnis di Rusia: Bikin Sistem untuk Mata-matai Pembelot

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 09:22 WIB
BARCELONA, SPAIN - FEBRUARY 22:  A logo sits illuminated outside the Nokia pavilion on the opening day of the World Mobile Congress at the Fira Gran Via Complex on February 22, 2016 in Barcelona, Spain. The annual Mobile World Congress hosts some of the worlds largest communications companies, with many unveiling their latest phones and wearables gadgets.  (Photo by David Ramos/Getty Images)
Foto: David Ramos/Getty Images
Jakarta -

Invasi Rusia di Ukraina telah memicu eksodus besar-besaran pada bisnis di negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu. Perusahaan-perusahaan yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan pijakan di pasar konsumen yang sedang tumbuh menarik diri dalam waktu yang sangat singkat.

Di tengah eksodus yang terjadi, pabrikan alat teknologi dan telekomunikasi asal Finlandia Nokia justru jadi sorotan. Dilansir dari CNN, Kamis (31/3/2022), The New York Times mengungkapkan Nokia selama bertahun-tahun ternyata menyediakan peralatan dan layanan yang menopang sistem pengawasan Rusia.

Kabarnya, sistem yang disediakan Nokia untuk Rusia telah digunakan untuk memata-matai para pembangkang pemerintah Putin. Pembuatan sistem pengawasan ini disebut-sebut menjadi syarat dan biaya yang harus dibayar bila Nokia ingin berbisnis di Rusia, dan Nokia menuruti hal itu.

Nokia sendiri sudah mengeluarkan pernyataan yang mengecam invasi ke Ukraina dan mengatakan akan menghentikan penjualan di negara itu. Tapi, di sisi lain perusahaan mengatakan mereka akan tetap memenuhi kewajiban untuk membuat produk yang sesuai dengan sistem pengawasan yang diminta Rusia.

Dalam sebuah pernyataan, Nokia menyatakan artikel New York Times menyesatkan. Mereka menekankan perusahaan tidak pernah memproduksi, memasang, atau memperbaiki alat pengawasan pemerintah Rusia.

"Kami mengutuk penyalahgunaan penyadapan yang sah untuk melanggar hak asasi manusia. Untuk mencegah hal ini, ada kebutuhan yang kuat untuk tindakan multi-lateral untuk memastikan kerangka kerja yang memadai diterapkan," tegas Nokia dalam pernyataannya.

Memang sejauh ini tidak ada bukti bahwa Nokia melakukan sesuatu yang ilegal, bahkan bila mereka terbukti memproduksi alat pengawasan Rusia. Tetapi etika dan hukum bukanlah hal yang sama.

Para ahli mengatakan tidak ada bisnis yang dapat menjaga tangannya tetap bersih. Sifat rantai pasokan global yang luas dan saling berhubungan membuat pengusaha mustahil untuk menghindari beberapa interaksi dengan dunia kejahatan secara langsung ataupun tidak langsung. Misalnya saja dengan tindak korupsi, eksploitasi tenaga kerja, atau elemen buruk lainnya dari perdagangan global.

Artinya, Nokia mungkin tidak membuat teknologi yang memata-matai orang Rusia, tetapi mereka menunjukkan kepada pihak berwenang Rusia cara memasangnya. Hal itu seharusnya menjadi peringatan besar bagi petinggi perusahaan.

Dokumen-dokumen yang ditinjau oleh New York Times menunjukkan apa yang dilakukan di Rusia ini adalah bisnis penting dan menguntungkan bagi Nokia. Bisnis itu menghasilkan ratusan juta dolar pendapatan tahunan.

Ini bukanlah dilema baru bagi perusahaan multinasional, apalagi perusahaan dengan cap Big Tech khususnya. Bila mereka melakukan bisnis di pasar otoriter seperti China dan Rusia, kemungkinan keseimbangan kebebasan berbicara hingga privasi tak bisa diciptakan.

Apple, misalnya, telah lama mereka membanggakan diri dalam memastikan privasi pelanggan. Namun di China, Apple harus membengkokkan nilai-nilai itu untuk mematuhi regulator.

Investigasi New York Times musim panas lalu menemukan bahwa Apple membantu penyensoran pemerintah di App store versi China dan membahayakan data pelanggan China. Apple membantah beberapa temuan laporan tersebut, dengan mengatakan pihaknya menghapus aplikasi hanya untuk mematuhi hukum China.

Demikian pula, chip yang dibuat oleh Intel dan Nvidia diduga membantu memberi daya pada komputer yang digunakan China dalam pengawasan massal terhadap minoritas Muslim.

Kemudian tahun lalu, Microsoft mengatakan secara tidak sengaja menghapus gambar-gambar tindakan keras Lapangan Tiananmen 1989 di seluruh dunia pada mesin pencari Bing-nya. Ini adalah sebuah contoh langka dari penyensoran internal ketat China yang menyebar di luar perbatasannya.

Simak juga 'Sejam Teleponan dengan Zelensky, Biden Bantu Miliaran Dolar':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/zlf)