AS Yakin Rusia Bakal Terjun ke Jurang Resesi Imbas Diberondong Sanksi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 04 Apr 2022 09:57 WIB
Melanjutkan tren positif sejak Selasa kemarin, nilai tukar rupiah menguat melawan dolar AS.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Rusia diberondong sanksi ekonomi usai melakukan invasi ke Ukraina. Sanksi yang dijatuhkan pada Rusia telah mendorong negara itu menjadi ekonomi tertutup. Hal ini disebut-sebut tidak siap untuk ditangani oleh negara itu.

"Konsekuensi ekonomi yang dihadapi Rusia sangat parah: inflasi tinggi yang hanya akan semakin tinggi, dan resesi yang dalam yang hanya akan semakin dalam," kata seorang pejabat senior Departemen Keuangan AS dilansir dari CNN, Senin (4/4/2022).

Sanksi-sanksi negara Barat telah membekukan sekitar setengah dari cadangan devisa Rusia, melarang bank-bank Rusia dari jaringan perbankan SWIFT, dan memblokir ekspor teknologi utama ke Rusia. Malah Amerika Serikat langsung melarang impor minyak, gas alam, dan produk minyak Rusia.

Tujuan dari sanksi tersebut adalah untuk melemahkan ekonomi Rusia dan melemahkan kemampuan negara itu untuk menggunakan militernya.

"Rusia telah terpojok untuk menjadi ekonomi tertutup, dan Rusia sebenarnya adalah salah satu negara yang paling tidak siap untuk melakukannya dengan baik sebagai ekonomi tertutup," kata pejabat tersebut.

Pejabat itu memperkirakan Rusia akan mengalami banyak masalah terisolasi di panggung dunia karena telah lama mengandalkan penjualan bahan baku untuk membeli barang konsumsi dan peralatan canggih untuk produksi.

Pejabat AS mengawasi rantai pasokan AS dan Eropa, termasuk pasokan logam dan mineral utama yang diperlukan dalam proses manufaktur penting.

Demikian pula, kekuatan Barat telah memberikan pengecualian kemanusiaan yang dirancang untuk membatasi dampak pada harga pangan, yang sudah tinggi sebelum krisis ini dimulai.

Pejabat senior Departemen Keuangan itu juga mengatakan ekonomi Rusia jatuh ke dalam resesi dan dihancurkan oleh inflasi yang melumpuhkan. Meskipun Rubel bisa bangkit kembali ke tingkat sebelum invasi, pejabat itu berpendapat daya beli mata uang telah dihancurkan oleh meroketnya harga di Rusia.

Para pejabat di Rusia telah berusaha untuk menopang mata uang lokal Rubel. Mereka memerintahkan eksportir untuk menukar 80% pendapatan mata uang asing mereka dengan Rubel, melarang pialang Rusia menjual sekuritas, melarang penduduk Rusia melakukan transfer bank di luar negeri. Langkah-langkah itu secara artifisial meningkatkan permintaan untuk rubel.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)