9 Pabrik Sepatu Cina Relokasi Pabrik ke RI
Rabu, 24 Mei 2006 14:55 WIB
Jakarta -
Gemilang industri sepatu Indonesia sebelum krisis moneter 1997 sepertinya bakal berulang lagi. Indonesia kembali dilirik menjadi basis produksi sepatu yang ditandai relokasi pengusaha sepatu dari Cina.Sembilan perusahaan yang semula mendirikan pabrik sepatu di Cina, sejak tiga bulan lalu sudah berinvestasi di Jawa Timur sebesar Rp 800 miliar dengan menyerap 20 ribu tenaga kerja.Sembilan perusahaan pabrik sepatu Cina itu tidak murni milik investor Cina, tapi juga Taiwan, Korea dan Hong Kong. Pabrik sepatu ini adalah penerima order dari sepatu merek terkemuka seperti Puma dan Lotto.Selain 9 investor ini, pada Juni mendatang juga akan datang 10-15 investor Cina yang akan menjajaki investasi di Indonesia.Demikian diungkapkan oleh Direktur Industri Aneka Departemen Perindustrian (Depperin), Nugraha Sukmawidjaja, di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (24/5/2006).Menurut Nugraha, relokasi besar-besaran yang dilakukan pengusaha sepatu asal Cina karena negara tersebut sedang mengalami kesulitan tenaga kerja. Pasalnya, tenaga kerja Cina kini lebih memilih bekerja di sektor IT, elektronik dan jasa karena gaji yang diperoleh lebih besar."Pada akhir Juli nanti, misi dari kita akan berangkat ke Cina untuk merealisasikan one and one business. Sebanyak 20-25 perusahaan sepatu asal Indonesia ikut serta," kata Nugraha.Indonesia juga saat ini berupaya menangkap potensi relokasi perusahaan sepatu Cina yang mengalami hambatan ekspor ke Eropa. Apalagi Indonesia mendapat fasilitas General System Reference (GSR) dari Uni Eropa, yang membuat bea masuk sepatu yang semula 17 persen dikurangi menjadi 14 persen."Kita sedang berusaha bukan hanya mendapat relokasi order, tapi juga relokasi investasi," imbuh Nugraha.Indonesia ditargetkan bisa menjadi capital shoes pada tahun 2009. Dengan basis produksi sepatu di tiga daerah yakni Tangerang, Pasuruan atau Sidoarjo serta Jawa Barat.Cina dikenai anti dumping oleh Uni Eropa yang efektif bulan Mei ini. Namun sanksi anti dumping ini telah disalahgunakan oleh pengusaha Cina dengan memalsukan Surat Keterangan Asal (SKA) dari Indonesia, padahal barang itu diproduksi Cina."Menperin sudah minta mereka diberi sanksi berat. Perusahaannya di-black list dan mereka dibawa ke pengadilan," tegas Nugraha.Dia juga optimistis, RI tidak akan dijadikan sasaran tuduhan anti dumping terkait dengan relokasi pabrik asal Cina. Pasalnya, Indonesia tidak seperti Cina yang subsidinya begitu kuat, khususnya listrik dan energi.Selain perusahaan asal Cina, produsen Levis juga berencana memproduksi sepatu di Indonesia. Namun Levis saat ini belum mendapat mitra yang bisa memproduksi 600 ribu pasang sepatu per bulan. Levis hanya memindahkan order, bukan investasi.Sementara merek sepatu Fusion juga berencana menambah ordernya di Indonesia menjadi dua kali lipat, dari semula 600 ribu pasang menjadi 1,2 juta pasang sepatu per bulan. Fusion juga hingga kini belum mendapat mitra strategis.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































