Dampak Ngeri Lockdown China ke Ekonomi Global yang Jarang Dibahas

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 18 Apr 2022 08:49 WIB
Shanghai telah memberlakukan lockdown sejak akhir bulan lalu. Pusat keuangan di Negeri Tirai Bambu itu pun kini sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kota sehari-hari.
Potret Lockdown di China (Foto: REUTERS/ALY SONG)
Jakarta -

China kembali memberlakukan kebijakan tinggal di rumah alias lockdown terhadap hampir 400 juta orang di 45 kota itu. Hal ini sebagai bagian untuk mengurangi lonjakan COVID-19 yang kembali terjadi.

Meski investor yang meremehkan dampaknya, namun analis memberikan peringatan tentang seberapa serius kejatuhan ekonomi global akibat isolasi berkepanjangan ini.

"Pasar global mungkin masih meremehkan dampaknya karena banyak perhatian tetap terfokus pada konflik Rusia-Ukraina dan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS," kata Kepala Ekonom China, Lu Ting dikutip dari CNN, Senin (18/4/2022).

Paling banyak dikhawatirkan adalah lockdown tanpa batas di Shanghai, kota berpenduduk 25 juta jiwa yang merupakan salah satu pusat manufaktur dan ekspor utama China. Kebijakan itu menyebabkan kekurangan makanan, ketidakmampuan mengakses perawatan medis, hingga pembunuhan hewan peliharaan.

Pelabuhan Shanghai yang menangani lebih dari 20% lalu lintas barang Tiongkok pada 2021, saat ini terhenti. Persediaan makanan yang tersangkut di kontainer pengiriman tanpa akses terancam membusuk.

Menurut buku statistik pemerintah tahun 2021, Shanghai menghasilkan 6% dari ekspor China sehingga penutupan pabrik di dalam dan sekitar kota semakin mengguncang rantai pasokan. Maskapai kargo membatalkan semua penerbangan masuk dan keluar kota, lebih dari 90% truk yang mendukung pengiriman impor dan ekspor saat ini tidak beroperasi.

Pabrik pemasok Sony dan Apple di sekitar Shanghai tidak beroperasi. Quanta, produsen notebook kontrak terbesar di dunia dan pembuat MacBook telah menghentikan produksi sepenuhnya. Tesla telah menutup pabriknya di Shanghai Giga, yang memproduksi sekitar 2.000 mobil listrik per hari.

"Dampaknya terhadap China sangat besar dan dampak pada ekonomi global cukup signifikan. Saya pikir kita akan menghadapi lebih banyak volatilitas, gangguan ekonomi dan sosial setidaknya selama enam bulan ke depan," kata Kepala Praktik Grup Eurasia untuk China dan Asia Timur Laut, Michael Hirson.

Dalam sebuah laporan yang dirilis pekan lalu, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperingatkan skenario terburuk yang didorong oleh invasi Rusia ke Ukraina, dapat mengurangi PDB global jangka panjang sebesar 5%.

Analis tidak lagi percaya bahwa target pertumbuhan ekonomi 5,5% China tahun 2022. Bank Dunia merevisi perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi China menjadi 5% hingga bisa turun menjadi 4%.

Lihat juga video 'China Gaspol Kirim 3 Astronaut Lagi pada Juni Mendatang':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/dna)