Neraca Dagang RI Surplus Lawan AS, tapi Keok dengan Thailand

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 18 Apr 2022 16:49 WIB
Setelah beberapa bulan mengalami defisit alias tekor, pada Mei 2019 posisi neraca perdagangan berbalik menjadi surplus.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Maret surplus US$ 4,53 miliar. Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan surplus ini sudah terjadi 23 bulan berturut-turut.

Margo menjelaskan, hal ini terjadi karena kinerja ekspor Indonesia yang tertinggi sepanjang sejarah di Indonesia. Penyebabnya adalah harga komoditas seperti ICP, CPO, karet, timah, tembaga hingga batu bara yang mengalami kenaikan di pasar global.

Indonesia sendiri mencatatkan untung berdagang dengan beberapa negara. Misalnya Amerika Serikat (AS), India serta Filipina.

"Surplus neraca dagang dengan Amerika Serikat (AS) US$ 2,03 miliar. Disumbang oleh lemak dan minyak hewan atau nabati serta alas kaki," kata dia dalam konferensi pers, Senin (18/4/2022).

Selanjutnya dengan India juga mencatatkan surplus sebesar US$ 1,21 miliar. Komoditi yang menyumbang surplus adalah bahan bakar mineral dan lemak, minyak hewan atau nabati.

Filipina juga menjadi penyumbang surplus yaitu US$ 916,9 juta pada Maret 2022. Bahan bakar mineral dan kendaraan dan bagiannya menjadi komoditas yang menyumbang surplus.

Tak cuma surplus, RI juga mencatat tekor neraca perdagangan dengan Thailand sebesar US$ 565,6 juta. Penyebabnya adalah kembang gula, mesin dan perlengkapan mekanis serta bagiannya.

Selain itu, defisit neraca dagang juga terjadi dengan Australia sebesar US$ 515,9 juta dengan komoditas bahan bakar mineral dan serealia.

Kemudian dengan Argentina, defisit US$ 261,6 juta penyebabnya adalah serealia dan ampas industri makanan.



Simak Video "Ekspor Mobil 'Made in Indonesia' Meningkat, SUV Suzuki Kian Diminati"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)