Ditinggal 200.000 Pelanggan, Netflix Mau Keluarkan Paket Murah Pakai Iklan

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 21 Apr 2022 20:30 WIB
Netflix
Foto: Netflix
Jakarta -

Belum lama ini harga saham Netflix anjlok hingga 35%. Jatuhnya harga saham Netflix ini bermula sesaat setelah perusahaan menyampaikan bahwa mereka kehilangan 200.000 pelanggan pada kuartal pertama tahun 2022.

Hal ini menyebabkan kapitalisasi pasar perusahaan turun hingga US$ 50 miliar atau setara Rp 715 triliun (kurs Rp 14.300/dolar AS).

Melansir dari CNN, Kamis (21/04/2022), kabar mengenai kehilangan jumlah pelanggan ini tentu menjadi pukulan besar bagi perusahaan. Belum lagi sebelumnya para analis dan investor telah menaruh harapnya kepada layanan ini untuk menambah 2,5 juta pengguna baru di kuartal pertama.

Seolah itu belum cukup buruk, Netflix mengatakan mereka memperkirakan akan kehilangan 2 juta lagi pada kuartal saat ini. Alih-alih bertambah, jumlah pelanggan Netflix malah berkurang dan diperkirakan akan terus berkurang.

Tentu saja hal ini membuat para investor menjadi khawatir tentang pertumbuhannya ke depan. Lantas bagaimana cara Netflix memperbaiki kondisi ini? Sejauh ini perusahaan telah merencanakan sejumlah opsi untuk menanggulangi permasalahan ini. Salah satu opsi tersebut adalah periklanan.

CEO Reed Hastings secara historis sangat menolak untuk menambahkan iklan ke layanan. Namun dengan kondisi Netflix sekarang ini nampaknya hal tersebut sudah tidak dapat dilakukan lagi.

"Anggapan kami cukup terbuka untuk menawarkan harga yang lebih rendah dengan iklan," kata Hastings selama panggilan pasca-pendapatan Selasa (19/4) sebagaimana dikutip detikcom.

Menambahkan tingkat iklan yang lebih murah sudah terjadi di seluruh pasar streaming. Sebut saja Disney+, Hulu, dan HBO Max yang sudah lebih dulu menawarkan opsi tersebut, karenanya masuk akal bagi Netflix untuk akhirnya bergabung dengan mereka..

"Kami tahu bahwa konsumen tidak memiliki masalah dengan iklan selama lebih murah dan tidak ada opsi komersial juga," katanya.

"Namun demikian, dengan iklan ada batasan konten tertentu, dan itu adalah sesuatu yang mungkin ingin mereka hindari. Pada akhirnya, mereka perlu memastikan bahwa mereka memiliki konten yang diinginkan konsumen, dan kemudian memastikan mereka memonetisasinya dengan cara sebaik mungkin," jelasnya lagi.

(fdl/fdl)