3 Fakta Penyelamatan Garuda yang Lagi 'Berdarah-darah'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sabtu, 23 Apr 2022 09:30 WIB
Garuda Indonesia menjadwalkan 300 penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Selasa (9/8). Begini suasana terminal 3 Ultimate pagi ini.
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara/Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta -

Kabar baik datang dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Sebab, skema penyelamatan maskapai pelat merah ini disetujui Panja Komisi VI DPR.

Garuda sendiri saat ini masih dalam kondisi terpuruk. Karena itu, langkah penyelamatan ini penting agar perseroan bisa terus hidup. Berikut fakta-faktanya:

1. Dukungan Politik Penting Buat Selamatkan Garuda

Panja Komisi VI DPR dan Menteri BUMN Erick Thohir sepakat untuk melaksanakan skema penyelamatan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Erick pun mengucapkan terimakasih atas dukungan panja.

"Kita bersyukur dan berterima kasih dengan dukungan panja Komisi VI DPR sangat berarti dalam upaya penyehatan Garuda," ujar Erick saat rapat panja penyelamatan Garuda Komisi VI di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (22/4/2022).

Erick tak ingin Kementerian BUMN menjadi menara gading dan tentu akan memerlukan dukungan banyak pihak termasuk DPR dalam menyelamatkan Garuda. Erick menilai dukungan politik dari DPR sangat penting bagi Kementerian BUMN dalam menyehatkan kembali kinerja Garuda.

"Alhamdulillah setelah melalui berbagai rapat kerja, rapat dengar pendapat, hingga panja, sekarang kita telah sama-sama sepakat bahwa penyelamatan Garuda harus menjadi keharusan," ucap Erick.

2. Garuda Rugi dan Punya Utang Segunung

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Garuda menderita kerugian US$ 1,66 miliar atau setara Rp 23,73 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) pada September 2021 menurut laporan keuangan interim yang tidak diaudit. Rugi ini naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$ 1,07 miliar.

Pendapatan dan penjualan hingga September 2021 sebanyak US$ 939,02 juta. Pendapatan ini turun dibanding periode yang sama tahun 2020 sebesar US$ 1,13 miliar. Jumlah aset Garuda tercatat US$ 9,42 miliar. Aset ini juga turun dari sebelumnya US$ 10,78 miliar.

Sementara, liabilitas perusahaan jumlahnya US$ 13,02 miliar atau naik dari sebelumnya US$ 12,73 miliar. Liabilitas tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek US$ 5,28 miliar dan jangka panjang US$ 7,73 miliar.

Selanjutnya, jumlah ekuitas atau modal Garuda tercatat minus US$ 3,60 miliar. Ekuitas ini turun banyak dibanding periode yang sama tahun sebelumnya minus US$ 1,94 miliar.

3. Suntikan PMN hingga Modal Investor Jadi Penyelamat Garuda

Dalam Laporan Pelaksanaan Panja Penyelamatan Garuda Komisi VI yang diterima detikcom disebutkan, Panja menyetujui usulan PMN ke Garuda sebesar Rp 7,5 triliun dari cadangan pembiayaan investasi APBN 2022.

"Panja Penyelamatan Garuda Komisi VI DPR RI menyetujui usulan PMN ke PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 7,5 triliun dari Cadangan Pembiayaan Investasi APBN 2022, yang akan dicairkan jika PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencapai kesepakatan damai dengan krediturnya dalam PKPU," bunyi laporan tersebut.

Kemudian, Panja memahami kemungkinan adanya program privatisasi terkait restrukturisasi yang sedang dilakukan berupa konversi utang menjadi saham dan masuknya tambahan modal. Oleh karena itu, Panja meminta Kementerian BUMN terus melakukan koordinasi dengan Komite Privatisasi Pemerintah dan Kementerian/Lembaga terkait program privatisasi yang akan dilakukan selama kepemilikan negara minimal 51%.

"Panja Penyelamatan Garuda Komisi VI DPR RI memahami adanya opsi masuknya investor strategis dalam proses penyelamatan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Oleh karena itu, Panja Penyelamatan Garuda Komisi VI DPR RI meminta Kementerian BUMN dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk melaporkan terlebih dahulu kepada Komisi VI DPR RI apabila investor strategis akan masuk, selama kepemilikan negara minimal 51%," bunyi laporan ini lebih lanjut.

(acd/fdl)