Jangan Asal Kejar Cuan! Ini Hal yang Perlu Diwaspadai Milenial saat Investasi

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Minggu, 24 Apr 2022 14:34 WIB
DNA Pro adalah penipuan investasi yang sedang ramai dibicarakan masyarakat. Sebenarnya, apa itu DNA Pro? Bagaimana cara kerjanya? Berikut informasinya.
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kasus investasi ilegal belakangan ini tengah marak terjadi. Namun, sayangnya masih juga banyak korban terjerat, khususnya kaum milenial. Diketahui, korbannya pun bisa mengalami kerugian hingga lebih dari ratusan juta rupiah.

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK )Ivan Yustiavandana mengatakan bahwa selain memberikan manfaat, perkembangan teknologi digital perbankan juga menjadi ajang melakukan investasi ilegal para pelaku kejahatan.

''Kondisi ini menjadikan modus pencucian uang (money laundering) menjadi lebih masif, rumit, dan semakin sulit diidentifikasi,'' kata Ivan dalam keteranganya, dikutip Minggu (24/4/2022).

Untuk itu, milenial perlu mewaspadai berbagai modus dari para pelaku tersebut. Adapun beberapa di antaranya adalah dengan menyimpan dana dalam bentuk aset kripto, penggunaan rekening milik orang lain, serta mengalirkan dana ke berbagai rekening di beberapa bank dalam dan luar negeri untuk mempersulit penelusuran transaksi.

Agar tidak menjadi korban penipuan, Ivan juga mengingatkan masyarakat untuk memastikan legalitas perusahaan sektor jasa keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan legalitas perusahaan pada instansi. Hal itu harus dipastikan sesuai dengan kegiatan usaha, dan perlu mengikuti proses secara benar.

"Terpenting lagi, tidak ada investasi yang instan, semuanya perlu proses. Harus sakit dulu. Kuliah saja harus skripsi dulu baru lulus, bukan? Harus aware juga terhadap bahaya pencucian uang, karena risikonya kita yang hadapi sendiri,'' tegas Ivan.

Senada, CEO Aplikasi Pintu Jeth Soetoyo mengatakan, jika ingin berinvestasi lakukanlah secara perlahan dan hati-hati. Jangan langsung percaya, jika diiming-imingi kaya mendadak karena sebuah investasi tidak bisa langsung mendapat keuntungan.

''Lakukan riset terlebih dulu. Sekarang akses internet kan mudah, banyak informasi di sana. Pilih sumber baik news maupun sumber lain yang kredibel. Intinya, kita harus mengedukasikan diri sendiri, agar semakin mengerti produk yang kita beli. Pilih platform yang sudah diregulasi OJK dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Kita juga perlu mengerti seberapa banyak risiko yang akan kita ambil dalam investasi itu,'' tutur Jeth.

Sementara itu, Direktur Utama Forum Milenial Madjoe Communications (IKComm) Ira Koesno, mengharapkan untuk generasi milenial semakin paham mengenai investasi yang benar-benar legal dan aman.

Ira juga mengatakan kurangnya pemahaman terkait kegiatan trading dan investasi, menyebabkan sebagian besar penggunanya buta terhadap aturan. Kaum muda juga perlu mengetahui bahwa pemerintah melalui Bappebti dan Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) telah memblokir banyak situs dan aplikasi ilegal binary option.

''Banyak instrumen trading online abal-abal berkedok investasi di Indonesia, diantaranya adalah Binomo, Exness, IQ Option, USG FOREX, OCTAFX, OLYMP TRADE, QOUTEX, WELTRADE, URBAN FX TRADE, dan BRAVO FX. Anak-anak muda perlu tahu ini,'' tambah Ira.



Simak Video "Kasus Trading Fahrenheit, Polri Blokir Rekening Berisi Rp 44,5 Miliar"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)