Eramet Prancis Buka Pertambangan Nikel di Maluku
Selasa, 30 Mei 2006 13:18 WIB
Jakarta - Industri pertambangan di Indonesia terus diincar investor asing. Setelah pemain lama seperti Newmont dan Inco, kini giliran perusahaan tambang asal Prancis Eramet SA, juga melirik tambang nikel di Teluk Weda (Weda Bay) Maluku Utara.Eramet melakukan investasi ini setelah perusahaan mengakuisisi 95 persen saham Weda Bay Nickel pada 2 Mei 2006. Perseroan menolak menjelaskan berapa nilai akuisisi tersebut.Dalam perusahana baru itu, Eramet menguasai 75 persen saham dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sebesar 10 persen. Namun Antam juga mempunyai peluang menambah sahamnya hingga 25 persen."Kita belum bisa prediksi berapa nilai investasinya, tapi kalau untuk investasi proyek yang sama itu sekitar US$ 1,5 miliar," kata CEO Eramet, Jacques Bacardats, dalam jumpa pers di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).Hal itu disampaikan Bacardats, usai bertemu Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (30/5/2006).Proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan produk nikel sebesar 60 ribu ton per tahun dari pabrik hidrometalurgi yang akan didirikan Eramet di Teluk Weda. Eramet menjamin perusahaan akan mengedepankan masalah lingkungan. "Kami mempunyai sumber daya manusia dan teknologi terbaru yang akan dikembangkan di proyek ini. Teknologi itu termasuk reservasi daerah aliran tambang dan limbahnya," ujar Bacardats.Namun Bacardats belum bisa memastikan kapan proyek ini akan dimulai. Untuk tahap awal Eramet akan melakukan studi kelayakan seperti yang tercantum dalam kontrak karya antara perusahaan dan pemerintah Indonesia.Sementara Dirjen Mineral dan Batubara Departemen ESDM, Simon F Sembiring mengatakan, Eramet sudah lama ingin mengembangkan proyek nikel di Teluk Weda ini. Proyek ini sempat tertunda karena masih adanya hal-hal yang terkait dengan UU Kehutanan. Simon memperkirakan, Eramet akan mulai mengembangkan proyek ini dalam tiga tahun mendatang. Pasalnya, untuk tahap awal studi kelayakan butuh waktu 1 tahun ditambah perpanjangan waktu 1 tahun."Rencananya Eramet akan menghasilkan konsentrat, tapi tidak tertutup kemungkinan memproduksi nikel. Itu semua tergantung pada hasil studi kelayakannya," tukas Simon.Eramet adalah perusahaan yang memproduksi tiga jenis hasil tambang seperti nikel, mangan, dan metal khusus. Perusahaan ini tercatat di bursa saham Prancis dan memiliki kapitalisasi lebih dari US$ 3 miliar.
(ir/)











































