ADVERTISEMENT

Bisnis Masih Lesu, Pengusaha Minta Tahun Depan Cukai Rokok Tak Naik

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 26 Apr 2022 12:43 WIB
Ilustrasi Rokok
Foto: (iStock)
Jakarta -

Pelaku industri rokok masih terpukul dengan lesunya bisnis karena pandemi COVID-19. Industri, berharap tak ada kenaikan cukai rokok di tahun depan.

Seperti diketahui, tahun ini kenaikan cukai hasil tembakau mencapai 12%. Tahun depan, industri minta lebih dilibatkan dalam mengambil keputusan ini.

"Meski dengan berat hati, kami masih patuh menerima kebijakan kenaikan cukai rokok. Tapi kami berharap ke depan dalam menentukan kebijakan tarif menyesuaikan dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Artinya, (Pemerintah) jangan seenaknya sendiri menaikkan tarif cukai (rokok) tinggi," tegas ketua Gabungan Pabrik Rokok Surabaya, Sulami Bahar, Selasa (26/4/2022).

Dia mengatakan, salah satu dampak yang akan terjadi bila ada kenaikan cukai adalah semakin tingginya peredaran rokok ilegal di pasar Indonesia. Hal ini diperparah dengan pandemi COVID-19 yang membuat daya beli konsumen turun.

"Masyarakat akan tetap merokok tetapi memilih rokok yang lebih murah. Artinya, di situ yang lebih murah itu rokok ilegal. Padahal, rokok ilegal itu kita tahu sendiri sangat merugikan semua pihak. Terhadap pemerintah, pendapatan negara hilang, dengan pengusaha (rokok) terjadi persaingan tidak sehat. Tak kalah pentingnya, sangat merugikan masyarakat konsumen karena di dalam rokok ilegal itu tidak diketahui kandungannya berbahaya atau tidak karena tanpa melalui uji lab dan lain-lain," papar Sulami Bahar.

Lebih lanjut, Sulami Bahar menjelaskan, kebijakan pemerintah selama tiga tahun berturut turut menaikan cukai rokok di atas besaran inflasi telah menambah beban harga kepada setiap batang rokok yang diproduksi perusahaan rokok resmi sebesar 64,5 persen. Bahkan untuk perusahaan atau pabrik rokok yang kecil kecil, beban itu bertambah menjadi 74 persen.

"Tidak hanya kenaikan di tahun ini. Tetapi mulai dari kenaikan 23 persen di tahun 2020 berbarengan pandemic (Covid 19), BPS mencatat dalam 2 tahun terakhir, industri hasil tembakau mengalami kontraksi 1,32 persen di tahun 2021 dan 5,78 persen di tahun 2020. Kenaikan tahun 2022 yang sebesar 12 persen menjadi semakin memberatkan industri yang baru pulih akibat pandemi. Dampaknya, industri hasil tembakau di gologan satu saat ini banyak yang mengajukan untuk turun golongan. Sehingga di negara kita ini hanya tinggal 3 dari sebelumnya 7 perusahaan golongan 1. Jadi ini tidak bisa didiamkan, nanti justru pemerintah akan terpuruk sendiri, karena yang terbesar memberikan kontribusi ke negara ini golongan 1, golongan 2. Kalau golongan 3 banyak yang diproteksi," papar Sulami Bahar.

Akibat kenaikan cukai rokok yang dilakukan pemerintah di tahun 2021 dan berlaku mulai awal Januari 2022, telah berdampak negatif bagi perekonomian, khususnya IHT. Sedikitnya 4.000 buruh rokok telah dirumahkan atau diberhentikan.

"Ada sekitar 4.000 buruh (pabrik rokok) dari anggota kami yang lay off. Jadi, sebenarnya PHK ini tidak hanya dampak dari kenaikan cukai tetapi ada juga dampak dari pandemi. Jadi, dampak gabungan kenaikan tarif cukai dan adanya pandemic,"jelas Ketua Gapero Surabaya, Sulami Bahar.



Simak Video "Bea Cukai Solo Sita 31 Ribu Batang Rokok Ilegal di Sukoharjo-Boyolali"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT