Gempa Yogya Pengaruhi Pertumbuhan Industri
Selasa, 30 Mei 2006 17:34 WIB
Jakarta -
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memperkirakan pertumbuhan industri tahun ini sebesar 7,7 persen tidak akan tercapai. Selain belum jalannya sektor rill, banyaknya bencana seperti gempa Yogya juga ikut mempengaruhi."Pertumbuhan industri 7,7 persen tidak akan tercapai, 7 persen saja sulit. Saya perkirakan sampai akhir tahun 5 persen," kata Ketua Kadin MS Hidayat.Hal itu disampaikan Hidayat, disela acara peluncuran secara simbolik Museum Batik di Pekalongan, di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Selasa (30/5/2006).Hidayat menilai, belum jalannya sektor rill karena pemerintah dan Bank Indonesia (BI) lebih mementingkan stabilitas makro dengan melakukan kebijakan uang ketat atau tight money policy."Akibatnya dunia usaha sesak nafas, pertumbuhan sektor rill dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi," kata Hidayat.BI dan pemerintah, ungkap Hidayat, memang menjanjikan kelonggaran kebijakan pada bulan September. "Tapi saya takutnya industri manufaktur tidak tahan, kalau bisa pelonggaran mulai bulan ini tapi bertahap," imbuh Hidayat.Menurutnya, dalam tiga bulan terakhir investasi Indonesia mengalami persaingan terberat dibanding tahun lalu. Arus investasi lebih memilih masuk ke India, Vietnam dan Cina. "Tahun ini Indonesia tidak masuk radar investasi, kemungkinan investasi baru akan masuk pada akhir tahun," katanya.Seharusnya, ungkap Hidayat, BI sudah melakukan penurunan suku bunga karena tingkat suku bunga negara kompetitor sudah dibawah 10 persen sedangkan Indonesia masih 12,5 persen. "Andaikan pemerintah berani mendekati suku bunga 10 persen secara bertahap tiap bulan itu berarti kebijakan yang pro pertumbuhan sektor rill," tukas Hidayat.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































