Tidak Main-main, bangun Usaha di Desa Juga Butuh rencana

Brillyan Vandy Yansa - detikFinance
Jumat, 29 Apr 2022 11:46 WIB
Jakarta -

Meninggalkan kampung halaman untuk memperoleh penghasilan di kota besar ternyata perlu perencanaan yang matang. Perlu diketahui jenis pekerjaan, gaya hidup perkotaan, hingga selisih antara pendapatan dengan pengeluaran.

Darwinah, purna pekerja migran Indonesia mengamininya. Ia mengatakan, alasan utama seseorang pergi ke luar negeri untuk bekerja adalah memperoleh modal usaha. Namun, akhirnya mereka terjebak dengan gaya hidup perkotaan sehingga pendapatan yang diperoleh tidak mencukupi sebagai bekal bisnis di kampung halaman.

"Dulu saya kerja di Hong Kong rencana 4 tahun untuk ngumpulin modal, yang lain pun begitu. Tapi, teman-teman itu biasanya renew kontrak gitu ya. Nggak balik ke Indonesia. Sawah udah kebeli, eh beli apa lagi untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif, sehingga mereka nggak pulang-pulang," ungkap Darwinah dalam d'Mentor Kamis, (21/04/2022).

Middle income trap terjadi di antara para pekerja luar negeri ini. Ujungnya, pemenuhan gaya hidup akibat culture shock menjadi faktor penarik yang membuat mereka enggan untuk kembali ke desa.

Bareyn Mochaddin seorang perencana keuangan menjelaskan ada 2 faktor penarik yang membuat orang enggan kembali ke desa. Pertama, orang yang terlanjur hidup dengan gaya hidup perkotaan akan kesulitan untuk kembali ke budaya pedesaan. Kedua, pola ekonomi seorang karyawan yang sudah terbangun bertahun-tahun akan sulit diaplikasikan saat orang tersebut terjun ke dunia bisnis.

"Saat menjadi wirausaha, disaat itulah kita tidak gajian lagi. Jadi kita sangat tergantung pada apa yang kita jual. Ketika usaha itu tidak berjalan baik, ada ketiadaan yang kita rasakan. Ada hal yang perlu dibayar," terang Bareyn.

Lebih lanjut, Bareyn menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat seseorang ingin melakukan shifting pekerjaan.
"Pertama adalah modal untuk usaha, kalau modal untuk usaha itu tergantung dengan usahanya apa. Kemudian dana darurat itu harus dimiliki, minimal 6 kali pengeluaran bulanan, yang ketiga adalah modal untuk huniannya juga. Kita mau pindah ke kampung juga perlu dipikir mau tinggal di mana. Yang tidak kalah penting adalah punya asuransi kesehatan," terang Bareyn.

Darwinah menjelaskan, proses membangun usaha rintisan itu tidak cepat. Butuh perhitungan matang dan kesabaran ekstra untuk menjalaninya.
"Kalau mau usaha itu, pikirin dulu pengeluaran bulanan. Jangan sampai kita berwirausaha tapi nggak mikirin pengeluaran. Kalau bangkrut, bisa pusing juga. Waktu saya masih coba usaha dan suami saya kerja di Rumah Sakit, kerasa tu duit pas-pasan banget," kenang Darwinah.

Namun berkat kegigian, kreatifitas, serta dukungan dari berbagai pihak, kini Darwinah dapat menikmati hasil jerih payahnya selama ini.
"Tapi saat saya sudah mencintai usaha saya, dan belajar lebih giat lagi untuk memajukan usaha saya, hari ini saya menikmati hasilnya. Ada istilah '10 Pintu Rezeki, 9 Diantaranya Adalah Usaha' itu betul ya, " tutupnya.

Saksikan Juga Video Lengkap d'Mentor: Pulang Lebaran, Usaha di Kampung Halaman

[Gambas:Video 20detik]



(vys/vys)