Ekspor CPO Cs Dilarang, BPS Beberkan Dampak Ngerinya!

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 14:52 WIB
Workers load palm oil fresh fruit bunches to be transported from the collector site to CPO factories in Pekanbaru, Riau province, Indonesia, April 27, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Ilustrasi Pekerja Kelapa Sawit/Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta turunannya bisa berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Kebijakan yang ditetapkan sejak 28 April 2022 itu masih berlaku sampai saat ini.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan ekspor Indonesia untuk komoditas unggulan tersebut akan menurun jika larangan terus diterapkan. Hal ini akan terlihat secara jelas pada Mei 2022 yang datanya dirilis bulan depan.

"Tentu saja ini karena ekspor dilarang, kalau nggak dicabut (akan) berdampak pada kinerja ekspor kita. Tapi bagaimana (kinerja) neraca perdagangan dan berapa turunnya kita lihat di bulan depan," kata Margo dalam konferensi pers, Selasa (17/5/2022).

Secara bulanan (month to month/mtm) saja, ekspor CPO pada April 2022 sudah menurun baik dari sisi nilai maupun volume. BPS mencatat ekspor komoditas dengan kode HS 15 itu sebesar US$ 2,99 miliar atau turun 2,56%.

Dari sisi volume, ekspor CPO sudah turun 1,93 juta ton atau sebesar 10,49% (mtm). "Jadi kalau kita lihat ekspor pada April 2022 untuk CPO atau HS 15 baik nilai maupun volume, turun. Apakah itu berkaitan dengan kebijakan larangan ekspor, tapi yang jelas pada April ini ekspor menurun," bebernya.

Seperti diketahui, pemerintah melarang ekspor minyak goreng beserta bahan bakunya sejak 28 April 2022. Larangan itu berlaku sampai harga minyak goreng curah mencapai Rp 14.000/liter dan memenuhi kebutuhan pasokan dalam negeri.

Berdasarkan Permendag Nomor 22 Tahun 2022, jenis produk yang dilarang ekspor meliputi CPO; Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil; Refined, Bleached and Deodorized Palm Olein; dan Used Cooking Oil.

(aid/ara)