Yellen Rayu Biden: Cabut Tarif Impor China yang Nggak Penting-penting Amat!

Tim Detikcom - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 14:45 WIB
Secretary of Treasury Janet Yellen testifies during a US House Committee on Financial Services hearing on Capitol Hill in Washington, DC, April 6, 2022. (Photo by SAUL LOEB / AFP)
Foto: AFP/SAUL LOEB
Jakarta -

Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen mengakui bahwa dia mengadvokasi Presiden Joe Biden untuk mencabut beberapa tarif impor dari China yang tidak strategis. Di sisi lain, tarif itu bahkan berdampak buruk terhadap konsumen dan bisnis di AS.

Dilansir Reuters, Kamis (19/5/2022), Yellen mengatakan hal tersebut saat konferensi pers di sela acara pertemuan menteri keuangan G7 dan gubernur bank sentral.

Pengenaan tarif impor tersebut adalah implementasi perang dagang AS dan China yang dikenakan oleh Presiden Donald Trump kala itu terhadap miliaran dolar produk China.

Beberapa di antaranya, bagi saya, lebih merugikan konsumen dan bisnis. Ini juga tidak terlalu strategis dalam hal menangani masalah kita dengan China," ujar Yellen.

Reuters melaporkan, Presiden Biden harus menyelesaikan perdebatan ini dengan menterinya. Biden harus memutuskan apakah akan memangkas tarif saat pemerintahannya tengah mencoba memerangi inflasi yang tinggi.

Sumber mengatakan, perwakilan pejabat perdagangan AS Katherine Tai lebih memilih untuk membiarkan tarif-tarif tersebut demi mengembangkan agenda perdagangan strategis dengan China. Hal itu dinilai bisa melindungi lapangan pekerjaan di AS dan perilaku China di pasar global. Pendekatan ini bahkan berpotensi memunculkan tarif baru.

Beberapa ekonom, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, bersama dengan banyak kelompok bisnis, telah mengadvokasi pengurangan tarif China sebagai cara untuk membantu menjinakkan inflasi tinggi yang disebabkan oleh gangguan rantai pasokan COVID-19, pemulihan yang kuat, dan lonjakan harga pangan dan energi karena untuk invasi Rusia ke Ukraina.

Yellen mengatakan bahwa pemotongan tarif dapat membantu meredakan inflasi tetapi kemungkinan besar tidak akan memberikan perubahan besar.

"Jadi saya melihat kasus bukan hanya karena inflasi, tetapi karena akan ada manfaat bagi konsumen dan perusahaan dari ... memotong beberapa dari mereka. Tapi kami sedang berdiskusi," ujarnya.



Simak Video "Kemlu RI Tanggapi Ancaman AS Absen di G20 Jika Ada Rusia"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)