ADVERTISEMENT

Tarif Listrik Mau Nyusul! Ini Daftar Barang yang Sudah Naik Duluan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 17:04 WIB
Jakarta -

Pengeluaran masyarakat bakal semakin besar. Sebab, pemerintah bakal menaikkan tarif listrik.

Memang tidak semua golongan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui kenaikan tarif untuk golongan 3.000 VA ke atas.

Jika terealisasi, tarif listrik ini akan menambah panjang daftar barang-barang yang naik. Ini daftarnya:

1. Minyak Goreng

Kenaikan harga minyak goreng mulai terasa pada November 2021 lalu. Tingginya harga minyak goreng membuat pemerintah sampai gonta-ganti kebijakan.

Sebut saja, dari kebijakan domestic market obligation (DMO) hingga larangan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan turunnya. Upaya hukum juga dilakukan untuk memberantas mafia minyak goreng.

Saat ini, harga minyak eceran tertinggi (HET) minyak goreng curah masih diatur Rp 14.000 per liter. Sementara, harga minyak goreng di Alfamart dan Indomaret variatif antara Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per liter.

2. LPG Non Subsidi

LPG non subsidi mengalami kenaikan di akhir tahun 2021. Hal ini sebagai respons tren peningkatan harga contract price (Aramco) CPA LPG yang terus meningkat sepanjang 2021.

Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina Commercial & Trading Irto Ginting mengungkapkan, pada November 2021 harga CPA LPG mencapai US$ 847 per metrik ton. Ini merupakan harga tertinggi sejak 2014 atau meningkat 57% sejak Januari 2021.

Irto menyebut penyesuaian harga LPG nonsubsidi terakhir dilakukan pada 2017. Harga CPA November 2021 tercatat 75% lebih tinggi dibandingkan penyesuaian harga empat tahun yang lalu.

Dia menambahkan besaran kenaikan harga LPG nonsubsidi yang porsi konsumsi nasionalnya 7,5% berkisar antara Rp 1.600-2.600 per kilogram (kg). Kenaikan harga resmi dilakukan per 25 Desember 2021.

"Perbedaan ini untuk mendukung penyeragaman harga LPG ke depan serta menciptakan fairness harga antardaerah," ujar Irto saat dimintai konfirmasi detikcom.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

3. Pertamax

Berlaku mulai tanggal 1 April 2022 mulai pukul 00:00 waktu setempat, BBM non subsidi gasoline RON 92 (Pertamax) disesuaikan harganya menjadi Rp 12.500 per liter (untuk daerah dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor /PBBKB 5%), dari harga sebelumnya Rp 9.000 per liter.

"Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, sejak tahun 2019," jelas Irto Ginting, Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, SH C&T PT Pertamina (Persero).

Penyesuaian harga ini, lanjut Irto, masih jauh di bawah nilai keekonomiannya. Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi dalam keterangan tertulisnya menyatakan dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 bulan April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp 16.000 per liter.

Dengan demikian, penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp12.500 per liter ini masih lebih rendah Rp 3.500 dari nilai keekonomiannya.

"Ini kita lakukan agar tidak terlalu memberatkan masyarakat," ujar Irto.

4. PPN

Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) resmi naik 1 April dari 10% menjadi 11%. Salah satu barang yang mengalami dampak kenaikan adalah mi instan.

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengakui ada kenaikan harga mi instan setelah tarif PPN 11%. Hal itu dia coba langsung di salah satu pusat perbelanjaan.

"Saya tadi beli mie instan ternyata ketika dicek dalam satu bungkus, PPN-nya itu naik Rp 25 dari 1 April dibanding 31 Maret," kata Yustinus dalam media briefing di Pulau Dua Restaurant, Jakarta Pusat, Jumat (1/4/2022).

Yustinus menilai kenaikan itu sangat rendah jika dibanding kontribusi masyarakat jika dikumpulkan untuk menambah pendapatan negara.

"Ini luar biasa kontribusi para penggemar mie instan kepada negara, Rp 25 kalau dikalikan banyak orang jadi gede juga tapi nggak berasa. Itu dipakai buat pipis saja nggak boleh. Jadi kita bersyukur PPN ini secara diam-diam menghanyutkan karena kontribusinya tidak terasa, masyarakat hanya nambah Rp 25, Rp 20, Rp 100, tapi jika dikumpulkan semua orang Indonesia jadi gede duitnya," tuturnya.

Simak juga Video: Kisah kak Toto, Terangi Jalan Anak Autis Dengan Lukisan

[Gambas:Video 20detik]




(acd/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT