'Hantui' Indonesia, Apa Itu Stagflasi?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 23 Mei 2022 11:34 WIB
Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2021 diramal tembus 7%. BI menyebut hal ini karena pemulihan di sektor pendukung turut mendorong ekonomi nasional.
Apa Itu Stagflasi? Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada tantangan besar lain yang perlu diwaspadai dan diantisipasi selain pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya selesai. Tantangan itu berasal dari perang Rusia-Ukraina, yang menyebabkan lonjakan inflasi global dan percepatan pengetatan kebijakan moneter global khususnya di Amerika Serikat (AS). Ada juga ancaman stagflasi.

Kondisi inflasi yang tinggi dan percepatan pengetatan kebijakan moneter bisa menghasilkan pelemahan ekonomi atau bahkan resesi. Hal itu lah yang disebut stagflasi, yang saat ini sekarang menghantui dunia, termasuk Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan stagflasi?

Stagflasi adalah kondisi yang di mana pertumbuhan ekonomi yang lambat, disertai dengan angka pengangguran tinggi. Tingginya angka pengangguran, akan berdampak pada melemahnya daya beli.

Jadi, bila terjadi kenaikan harga-harga karena pasokan atau supply barang yang terbatas, itu akan terjadi kondisi inflasi. Sederhananya, arti stagflasi adalah kondisi pengangguran yang disertai inflasi.

Dikutip dari modul 'Guru Pembelajar Ekonomi' yang ditulis oleh Dr. B. Suparlan, M.Pd dan Radian Tri Rama, S.E, M.E, dkk, kondisi stagflasi dan instabilitas telah mewarnai ekonomi Indonesia, khususnya pada periode selama tahun 1998.

Penurunan nilai tukar rupiah yang tajam, disertai dengan terputusnya akses ke sumber dana luar negeri menyebabkan turunnya kegiatan produksi secara drastis. Sehingga, hal itu dianggap sebagai akibat tingginya ketergantungan produsen domestik, pada barang dan jasa impor.

Penyebab Terjadinya Stagflasi

Dari pengertian di atas, maka dipastikan bahwa penyebab stagflasi adalah kondisi ekonomi yang melemah, yang ditunjukkan oleh banyaknya angka pengangguran (stagnasi perekonomian).

Selain itu, salah satu akar penyebab stagflasi adalah fenomena investasi dalam sektor riil yang dianggap memberi hasil lebih rendah dibanding sektor keuangan yang terus menerus, euforia spekulatif. Terjadi terlepas kaitan (decoupling) antara sektor riil dan sektor keuangan.

Itu sebabnya, pertumbuhan finansial diwarnai dengan ancaman mogok buruh di berbagai negara. Demikian stagflasi dikutip dalam buku Ekonomi Nurani vs Ekonomi Naluri karya Prof. Dr. Hendrawan Supratikno.

(fdl/fdl)