Biden Dilarang Masuk Rusia, Trump Bebas Melenggang

ADVERTISEMENT

Biden Dilarang Masuk Rusia, Trump Bebas Melenggang

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 23 Mei 2022 12:19 WIB
Trump vs Biden
Foto: Trump vs Biden (Tim Infografis: Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Sabtu merilis daftar terbaru berisi hampir 1.000 orang Amerika yang secara permanen dilarang memasuki negara itu, sebuah bentuk tamparan simbolis sebagai tanggapan atas sanksi keras yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat atas invasi brutalnya ke Ukraina pada Februari lalu.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden sejak pertengahan Maret lalu telah dilarang mengunjungi Rusia, begitu pula Menteri Luar Negeri Antony Blinken, Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Jenderal Angkatan Darat Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan.

Tetapi pada daftar yang telah diperbarui sekarang, nama Wakil Presiden Kamala Harris, serta putra Biden yang dilanda skandal Hunter Biden, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, dan Hillary Clinton, mantan menteri luar negeri dan ibu negara tercantum di dalamnya.

Aktor Morgan Freeman dan investor miliarder George Soros juga masuk dalam daftar. Dukungan filantropis Soros untuk tujuan liberal, dan kelompok-kelompok di bekas blok Soviet, telah membuatnya menjadi momok bagi Rusia dan ahli teori konspirasi sayap kanan.

Jen Psaki, yang hingga bulan ini menjabat sebagai sekretaris pers Gedung Putih Biden, memposting tweet sarkastik tentang daftar tersebut pada Sabtu malam.

"Saya kira kita harus membatalkan perjalanan keluarga Agustus ke Moskow ...," ujar Psaki dalam tweet tersebut.

Trump menjadi salah satu nama dari sekian pejabat politik AS yang tidak ada dalam daftar 963 orang Amerika yang dilarang.

Selama bertahun-tahun, Trump telah memuji Presiden Rusia Vladimir Putin dan mengkritik penyelidikan atas campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016 yang berakhir dengan kemenangan Trump atas saingannya dari Partai Demokrat, Clinton.

Lihat juga video 'Rudal Rusia Hancurkan Suplai Senjata AS dan Eropa di Ukraina':

[Gambas:Video 20detik]



Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT