Bukti Petani Belum Bisa Tidur Nyenyak Meski Ekspor CPO Dibuka

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 24 Mei 2022 18:06 WIB
Massa yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia gelar aksi unjuk rasa di depan kantor Menko Perekonomian. Mereka memprotes larangan ekspor CPO
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Petani kelapa sawit menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah mencabut larangan ekspor crude palm oil/CPO dan beberapa turunan lainnya. Setelah larangan ekspor itu dicabut, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai merangkak naik.

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Perjuangan (Apkasindo Perjuangan) mengatakan harga TBS pada saat larangan ekspor CPO diberlakukan anjlok 50% dari Rp 3.600-3.800 per kilogram (Kg) menjadi Rp 1.500/kg.

"Hari ini harga mulai naik sekitar Rp 400 sampai Rp 500. Rata-rata harga di provinsi menyentuh Ro 2.300 sampai 2.400/kg setelah dicabutnya kebijakan tersebut," kata Ketua Umum Apkasindo Perjuangan, Alpian Arahman dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, Selasa (24/5/2022).

Meski demikian, Alpian mengatakan masih ada masalah yang dialami oleh petani. Pertama dengan naiknya harga TBS, banyak pabrik kelapa sawit (PKS) yang belum menyerap harga TBS hari ini. Bahkan ada PKS yang yang disebut masih memberikan kuota.

"Sehingga tidak semua TBS petani dibeli oleh PKS," ujarnya.

Permasalahan lainnya, terkait harga pupuk untuk petani kelapa sawit yang melonjak. "Fatalnya, harga pupuknya tinggi barangnya tidak tersedia di tempat," ungkapnya.



Simak Video "Diperiksa 12 Jam di Kasus Minyak Goreng, Lutfi: Saya Jawab Sebenarnya"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)