Lagi, Gerombolan Pengusaha Sepatu Cina Pindahkan Pabrik ke RI

Lagi, Gerombolan Pengusaha Sepatu Cina Pindahkan Pabrik ke RI

- detikFinance
Senin, 05 Jun 2006 17:08 WIB
Jakarta - Indonesia tahun ini kebanjiran pengusaha sepatu asing yang memindahkan pabriknya ke Indonesia. Setelah 15 investor sepatu dari sejumlah negara beroperasi, gerombolan kedua sebanyak 35 pengusaha asal Cina akan ikut memindahkan pabriknya.Diperkirakan sampai akhir tahun 2006 terdapat 50 pengusaha sepatu yang sebagian besar dari Cina.Sementara saat ini sudah beroperasi 15 pabrik sepatu dari pengusaha asing. Sebanyak 11 pabrik berlokasi di Jawa Timur dan 4 berada di wilayah Jakarta.Kelimabelas perusahaan itu berasal dari Korea 2 pabrik, Cina 3 pabrik, Vietnam 1 pabrik, Singapura 1 pabrik, India 1 pabrik dan sisanya asal Taiwan.Merek sepatu yang diproduksi itu seperti Marks and Spenser, Lotto, Puma, Adidas satu pabrik, Nike 2 pabrik, Echo perluasan pabrik, Lacoste, Diadora perluasan satu pabrik, Timberland."Perusahaan itu, selain memajukan industri sepatu juga turut mengembangkan industri kulit," kata Ketua umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, saat konferensi pers di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta (5/6/2006).Menurut Eddy, ke-15 perusahaan sepatu asing itu mengeluarkan investasi US$ 170 juta dengan menyerap 250 ribu tenaga kerja. Indonesia kembali dilirik, setelah Cina dan Vietnam dikenai anti dumping oleh Uni Eropa."Sejak Cina dan Vietnam dikenai anti dumping pada April sudah ada 2.500 pabrik di Cina berguguran, ada 2.500 pabrik tutup," tutur Eddy.Karena itu, ungkap Eddy, pemerintahan Cina mendukung pengusahanya yang mau melakukan relokasi dengan bantuan pinjaman dana. Indonesia dipilih karena telah menjadi tujuan produsen sepatu ketiga di dunia setelah Cina dan Vietnam.Setelah tahap satu ini, ungkap Eddy, akan datang lagi 35 pengusaha sepatu asli Cina. Namun Aprisindo diingatkan untuk berhati-hati dengan beralihnya investasi ini karena dapat memicu tuduhan Indonesia melakukan dumping."Aprisindo menargetkan ekspor sepatu tahun ini seebsar US$ 1,8 miliar yang khusus penjualan ke Eropa mencapai US$ 800 Juta," tambah Eddy yang juga Direktur PT Tetra Kimia Mulia, produsen sepatu Marks & Spencer di Jawa Timur.Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari mengatakan, saat ini merupakan momentum yang sangat baik untuk industri sepatu Indonesia.Namun dilain pihak, ungkap Ansari, Indonesia juga harus mengantisipasi jangan sampai dikenai anti dumping. Karena menurut data terakhir, harga sepatu Indonesia bisa lebih rendah dibanding Vietnam. "Kemarin tidak dikenakan karena share kita di Eropa hanya 1,9 persensaja. Kalau masih dibawah 3 persen share suatu negara di Eropa dianggap tidak perlu dikenakan anti dumping," katanya. Sementara Vietnam share-nya sudah diatas 10 persen. Jadi selain ada peluang relokasi, Indonesia juga potensi dikenakan anti dumping. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads