Laporan dari Davos

Basmi Hoaks hingga Fintech Ilegal, Kemenkominfo Lirik Cisco

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 09:15 WIB
Kominfo Johnny G Plate peringatkan masyarakat terkait hoax penyebaran virus corona. Sebanyak 54 kasus sudah dilaporkan.
Foto: Grandyos Zafna
Davos -

Kementerian Komunikasi dan Informatika berencana menggandeng Cisco membersihkan ruang digital Indonesia. Beberapa tujuannya ialah untuk memerangi hoaks hingga fintech ilegal.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate sudah melakukan pertemuan dengan Cisco di sela rangkaian acara World Economic Forum 2022 di Davos, Swiss. Ada beberapa hal yang dibicarakan yang intinya keduanya berkomitmen untuk membersihkan ruang digital di Indonesia.

"Saya bertemu dengan Cisco membicarakan tentang cyber security. Cyber security khususnya teknologi untuk menjaga ruang digital kita agar tetap bersih," ujar Johnny ditemui di Davos, Swiss, Rabu (26/5/2022).

Johnny mengakui masih banyak fintech ilegal yang gentayangan di Indonesia meski sudah terus menerus dibasmi. Selain itu, penyebaran hoax masih terus terjadi. Kerja sama dengan Cisco itu lah yang akan memerangi hal-hal tersebut.

"Di Indonesia kita tahu banyak sekali fintech ilegal, kebocoran data, hoax. Teknologi ini perlu kita adopsi untuk memastikan agar ruang digital kita bersih dan bisa bermanfaat," tambahnya.

Johnny mengatakan, pemerintah akan mengadopsi sistem teknologi besutan Cisco untuk menanggulangi hal tersebut. Pemerintah, katanya, akan merumuskan teknologi milik Cisco apa yang cocok untuk hal tersebut.

"Cisco tentu mempunyai teknologi itu dan bersama kita akan merumuskan pilihan teknologi yang paling tepat. Jangan sampai ruang digital kita itu kotor. Pilihan teknologi yang seperti ini dan komitmen dunia usaha yang seperti ini perlu kita sambut dengan baik dalam rangka kolaborasi," ujarnya.

Selain itu, Johnny mengatakan, banyak perusahaan-perusahaan dunia yang menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia dalam forum ini. Di sektor telekomunikasi, Johnny mengatakan, Ericsson menunjukkan minatnya.

"Tadi banyak yang hadir dari sektor energi. Schneider, juga dari sektor digital untuk pengembangan 4G dan 5G Indonesia, seperti Ericsson. Ericsson sudah sangat lama ya sudah mengetahui betul Indonesia. Dan establishment-nya di Indonesia lama sekali. Mereka sangat berminat ya, karena mengetahui betul potensi digital ekonomi Indonesia yang begitu tinggi. Valuasi ekonomi digital Indonesia di 2030 sekitar US$ 315 miliar tentu menarik bagi investor," tutupnya.

(zlf/eds)