PHK Besar-Besaran Guncang Startup, Ada Fenomena Apa?

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 11:45 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Dua perusahaan rintisan atau startup tanah air, PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) atau LinkAja dan Zenius Education belum lama ini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya.

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Institute for Development Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan secara umum besar-besaran terjadi karena dua sebab.

"Pertama mereka ingin melakukan restrukturisasi karena ada skenario bisnis. Yang kedua, memang pencapaian kinerja lagi kurang bagus sehingga mereka melakukan efisiensi," katanya, kepada detikcom, Kamis (26/5/2022).

Perusahaan yang sedang mengalami penurunan kinerja, lanjut Tauhid, sebelum mengambil langkah PHK besar-besaran lazimnya telah berupaya melakukan perubahan, namun tidak ada hasil. Maka skenario yang diambil adalah PHK.

"Tapi intinya dalam hal ini, hak-hak pekerja jangan sampai dihilangkan apalagi untuk perusahaan BUMN," jelasnya.

Tauhid menambahkan, saat ini fenomena ledakan gelembung atau bubble burst memang sedang melanda startup-startup di Indonesia. Bubble burst bisa diketahui dari kinerja perusahaan yang kurang baik.

Bubble burst ini menurutnya, bisa saja melanda LinkAja dan Zenius, sama dengan yang terjadi pada perusahaan rintisan pada umumnya.

Sementara itu, Bhima Yudhistira. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengatakan penyebab PHK beberapa startup terjadi karena alami kesulitan pendanaan setelah rencana bisnis terpengaruh pandemi COVID-19 dan penurunan pengguna yang signifikan.

Ia menjelaskan, sebenarnya selama pandemi ada lonjakan pelanggan internet tapi tidak semua merata dirasakan oleh startup

"Faktornya, secara makro kenaikan tingkat suku bunga diberbagai negara membuat investor mencari aset yang lebih aman. Imbasnya saham startup teknologi dianggap high risk. maka banyak yang meramal tahun ini adalah winter-nya startup alias tekanan sell-off besar-besaran di industri digital," ujarnya.

Akhirnya, lanjut Bhima, banyak startup kesulitan mendapatkan pendanaan baru dan investor makin selektif dalam memilih startup.

(eds/eds)