Ada Fenomena Bubble Burst, Sinyal Ini Jadi Tanda Startup Mau PHK

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 14:30 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan rintisan (startup) belakangan ini disebut-sebut ada kaitannya dengan fenomena ledakan gelembung atau bubble burst yang terjadi di startup kini.

Sesuai namanya, bubble burst bisa dikatakan adalah fenomena pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan nilai pasar naik sangat cepat, terutama pada nilai aset. Tapi juga diiringi penurunan yang cepat.

Startup yang terus bermunculan di tanah air sedang mengalami hal ini. Sebagai perusahaan pemula, startup masih banyak mengalami tantangan. Pertumbuhannya begitu cepat, namun di satu sisi bisa dikatakan rapuh. Terlihat belakangan PHK hingga ratusan karyawan terjadi di beberapa startup.

Mengutip Investopedia, Kamis (26/5/2022), bubble burst terjadi oleh lonjakan harga aset yang didorong oleh perilaku pasar yang tinggi. Aset biasanya diperdagangkan pada harga atau dalam kisaran harga yang jauh melebihi nilai intrinsik aset. Dengan kata lain, harga tidak selaras dengan dasar aset.

Bubble burst terjadi setiap kali harga barang naik jauh di atas nilai riil barang tersebut. Fenomena ini biasanya dikaitkan dengan perubahan perilaku investor.

Di pasar ekuitas dan ekonomi fenomena ini menyebabkan sumber daya ditransfer ke area tertentu dengan pertumbuhan yang cepat. Namun, di akhirnya, sumber daya tersebut dipindahkan lagi, menyebabkan harga turun.

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan bubble burst terjadi karena ekspektasi yang berlebihan dari investor terhadap potensi startup dalam menghasilkan pendapatan jangka pendek.

"Padahal secara fundamental, sebagian startup masih terbilang merugi dan tidak memiliki daya saing sehingga nilai sahamnya menjadi overvalue. Kalau startup merugi tapi jadi pemenang di pasar dan punya masa depan is okay" katanya kepada detikcom.

Jika sudah begitu, maka siap-siap goncangan terasa di perusahaan hingga harus melakukan PHK. "Kalau startup branding-nya saja yang besar, pitching sana sini untuk gaet investor ternyata produknya useless maka siap siap ditinggal investor," jelasnya.

Supaya bubble burst tidak semakin melebar, Bhima berpesan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan startup, diantaranya dengan mengevaluasi ulang target pasar, rubah bisnis model apabila tidak memiliki prospek pasar yang kompetitif, fokuskan pada inovasi layanan atau produk, kolaborasi dengan pihak yang memang potensial.

"Startup juga perlu menurunkan target pertumbuhan secara wajar atau organik, prioritaskan tim manajerial yang solid dibandingkan hanya bertujuan mencari pendanaan tapi produk tidak laku di pasaran," pungkas Bhima.

(eds/eds)