Kecam Senjata Pusnah Massal, AS Jatuhkan Sanksi ke Korea Utara

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 28 Mei 2022 19:30 WIB
This photo distributed by the North Korean government shows what it says a test-fire of a Hwasong-17 intercontinental ballistic missile (ICBM), at an undisclosed location in North Korea on March 24, 2022. Independent journalists were not given access to cover the event depicted in this image distributed by the North Korean government. The content of this image is as provided and cannot be independently verified. Korean language watermark on image as provided by source reads: KCNA which is the abbreviation for Korean Central News Agency. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)
Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service via AP: Ini Hwasong-17, Rudal Terbesar Korut yang Bisa Jangkau AS
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi pada dua bank Rusia, sebuah perusahaan Korea Utara (Korut), dan seseorang yang dituduh mendukung program senjata pemusnah massal milik Korea Utara. Sanksi ini bertujuan menekan Pyongyang terkait peluncuran rudal balistik terbaru mereka.

Keputusan AS diambil sehari setelah China dan Rusia memveto usulan AS, yang meminta PBB untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi ke Korut terkait peluncuran rudal balistik. Hal ini memicu perpecahan dewan keamanan PBB untuk pertama kalinya sejak mereka mulai memberi sanksi ke Pyongyang tahun 2006.

Mengutip Reuters, Sabtu (28/5/2022), veto tetap diambil meskipun AS mengungkap ada enam uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dilakukan Korut tahun ini. Pyongyang juga disebut sedang bersiap melakukan uji coba nuklir pertamanya sejak 2017.

Departemen Keuangan AS menargetkan Air Koryo Trading Corp serta lembaga keuangan Rusia Far Eastern Bank dan Bank Sputnik karena berkontribusi pada pengadaan dan peningkatan pendapatan untuk organisasi Korea Utara.

Washington juga membidik nama Jong Yong Nam, perwakilan organisasi Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Kedua Korea Utara (SANS) yang berbasis di Belarusia. AS menyebut Jong Yong Nam turut mendukung Korea Utara terkait dengan pengembangan rudal balistik.

"Amerika Serikat akan terus menerapkan dan menegakkan sanksi yang ada sambil mendesak DPRK (Korea Utara) untuk kembali ke jalur diplomatik dan meninggalkan pengembangan senjata pemusnah massal dan rudal balistik," kata Wakil Menteri Keuangan untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, Brian Nelson.

China mendesak AS untuk mencabut beberapa sanksi sepihak dan membujuk Pyongyang agar mau kembali berdiskusi setelah sempat terhenti di tahun 2019. Tiga pertemuan antara presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS saat itu Donald Trump mengalami kegagalan.

Jumat Malam, diplomat dari Korea Selatan, Jepang dan AS mengeluarkan pernyataan yang menyebut jika Korut secara signifikan meningkatkan kecepatan dan skala peluncuran rudal balistiknya sejak September 2021.

(hns/hns)