Pembatasan COVID-19 Ketat, Warga Hong Kong Ramai-ramai Eksodus ke Singapura

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Minggu, 29 Mei 2022 11:30 WIB
Pemandangan Kota Hong Kong
Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta -

Ribuan penduduk beramai-ramai tinggalkan Hong Kong dalam 2 tahun terakhir. Selain dilandasi faktor keinginan, ketatnya pembatasan COVID-19 menjadi pemicu yang mendorong warga pergi meninggalkan Hong Kong.

Tahun 2020, sekitar 93.000 penduduk Hong Kong pergi meninggalkan kota tersebut, lalu diikuti oleh 23.000 warga lainnya tahun 2021. Tahun ini, diprediksi jumlah penduduk yang meninggalkan Hong Kong akan meningkat.

Sejak 2015 hingga 2019, penduduk Hong Kong bertambah rata-rata 53.000 per tahunnya. Namun angka tersebut diperkirakan sama dengan jumlah orang yang meninggalkan Hong Kong di dua minggu awal pada bulan Maret lalu.

"Beberapa tahun ke belakang orang sudah berpikir untuk pergi, tapi dalam enam bulan terakhir mulai terjadi eksodus massal," kata Pei C, warga Hong Kong yang sudah menetap selama 17 tahun, dikutip dari CNBC, Sabtu (28/5/2022).

Kebijakan pemerintah yang memisahkan anak-anak positif COVID-19 dengan orang tua mereka semakin menambah ketakutan. Akibatnya banyak orang tua yang memesan tiket penerbangan untuk segera meninggalkan Hong Kong.

Pei memperkirakan 60-70% teman-temannya telah pergi dalam enam hingga 12 bulan terakhir, termasuk rekan bisnis, keluarga, serta mereka yang pernah sangat berkomitmen untuk tinggal.

Menurut Pei, Singapura menjadi tujuan utama dari warga Hong Kong yang melakukan eksodus besar-besaran. ini Rata-rata yang pergi ke Singapura adalah mereka yang bekerja di bidang keuangan, hukum, hingga rekrutmen. Namun ada juga Indikasi perpindahan penduduk Hong Kong ke Dubai, Korea Selatan, Jepang dan Thailand.

Situs web lifestyle di Hong Kong yang dulu banyak memuat artikel tentang makanan dim sum atau panti pijat terbaik di kota, kini lebih fokus memuat artikel to-do list dan panduan membuat kado perpisahan.

Kepala Kantor Eksekutif Hong Kong Carrie Lam belum memberi banyak komentar terkait hal ini. Namun Lam pernah berujar jika aturan pembatasan COVID-19 meyeimbangkan aspek kesehatan dan ekonomi dengan tingkat toleransi publik.

"Hong Kong terus menjaga hak asasi manusia dan kebebasan, tetapi seseorang harus mematuhi hukum dalam menjalankan kebebasan," katanya. Terkait banyaknya masyarakat yang meninggalkan Hong Kong, Lam mengatakan jika itu adalah hak dan kebebasan mereka.

Selama 60 tahun terakhir populasi Hong Kong tumbuh hampir setiap tahun. Menurut Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong, populasi di tahun 1961 adalah 3,2 juta, dan di tahun 2019 menjadi 7,5 juta.



Simak Video "Kasus Covid-19 Meningkat Tajam, Hong Kong Pertimbangkan Opsi Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)